Masalah sampah adalah masalah semua orang, termasuk di kota Bogor. Warga seringkali membuang sampah sembarangan yang menyebabkan penyumbatan aliran sungai dan akhirnya dapat menyebabkan banjir. Kondisi ini mendorong Pak Djajat, anggota Dewan kota Bogor, untuk mengelola sampah warga di RW setempat. Kira-kira pertengahan tahun 2007, Pak Djajat dan Pak Wawan datang ke laboratorium saya untuk berdiskusi tentang pengelolaan sampah warga. Selain datang ke tempat saya, Pak Djajat juga datang ke beberapa orang untuk belajar mengelola sampah warga. Mengelola sampah sebenarnya tidak terlalu sulit, yang lebih sulit adalah memberikan pemahaman kepada warga untuk mengelola sampah dan istigomah menjalankan program ini.
Baca juga: Mengelola Sampah Rumah | Mengelola Sampah Pasar


Pak Wawan (kiri) ketua pengelola sampah warga sekaligus Pak RW dan Pak Djajat (kanan).
Lokasi Pengelolaan Sampah Warga
Dengan dorongan Pak Djajat, akhirnya warga di Gn Batu sepakat untuk membentuk semacam pokja pengelolaan sampah. Pada awalnya mereka akan membuat kompos dari sampah organik. Selanjutnya kompos ini dapat dimanfaatkan untuk tanaman atau dijual ke tukang tanaman hias. Tempat yang mereka pilih adalah sebidang tanah kosong yang biasa digunakan warga untuk membuang sampah. Mereka membangun saung sederhana dengan empat kotak kecil tempat membuat kompos. Kotak-kotak dibuat dari pagar bambu. Luas saung ini kira-kira kurang dari 10 m2. Di sebelah saung itu ada tempat penampungan dan tempat sortasi sampah. Sampah-sampah dari 6 RT dikumpulkan dengan menggunakan gerobak sampah ke tempat tersebut.


Foto saung dan lokasi penampungan sampah.


Pak Djajat memberi pejelasan pada warga
Karakteristik Sampah Warga
Sampah warga sama seperti sampah-sampah kota pada umumnya. Sampah ini bercampur antara sampah organik dengan sampah non organik. Warga belum memiliki kesadaran untuk memisahkan antara sampah organik dengan sampah non organik. Sampah-sampah ini dikumpulkan setiap dua hari sekali oleh petugas sampah.

Gambar sampah warga
Dilihat dari gambar di atas, sampah warga didominasi oleh sampah-sampah non organik. Sampah non organik yang paling banyak adalah sampah plastik. Seperti yang sudah saya jelaskan di posting sebelumnya (lihat di sini) sampah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar: sampah non organik dan sampah organik. Dari setiap kelompok ini berdasarkan bisa tidaknya didaur ulang dapat dikelompokkan menjadi bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang. Lihat gambar di bawah ini:

Pembagian kelompok sampah warga
Contoh kelompok sampah tersebut adalah sebagai berikut:
A. Sampah Organik Bisa Didaur Ulang: kertas, kardus, koran, majalah, dll
B. Sampah Organik Tak Bisa Didaur Ulang: sisa makanan, daun, sisa sayuran, dll.
C. Sampah Non-organik Bisa Didaur Ulang: logam (besi, alumunium, tembaga), botol, bekas botol minuman, kaleng, plastik, kaca, dll.
D. Sampah Non-organik Tak Bisa Didaur Ulang: plastik yang tidak bisa diaur ulang, baterai bekas, dll.
Sampah-sampah yang bisa didaur ulang baik organik maupun non-organik bisa dijual. Saat ini sudah ada pengepul barang-barang bekas yang datang ke lokasi pengelolaan sampah ini. Dalam satu minggu minimal mereka bisa mendapatkan dana tambahan Rp. 50.000 dari barang bekas daur ulang ini. Satu bulan berarti kira-kira Rp. 200.000. Jumlah ini justru lebih tinggi nilainya daripada pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Gambar sampah non organik yang bisa dijual
Sedangkan sampah non-organik yang tidak bisa didaur ulang seharusnya dibakar. Namun, saat ini mereka belum memiliki incinerator untuk membakar sampah. Jika sampah ini dibakar langsung akan diprotes warga, karena asapnya ke mana-mana dan masuk ke rumah-rumah warga. Dengan incinerator, cerobong bisa dibuat tinggi sehingga asap bisa langsung ke udara. Selain itu pembakaran bisa berlangsung sempurna dan mengurangi pencemaran udara.
Sampah organik diolah menjadi kompos. Kompos dapat diolah lagi menjadi pupuk organik untuk dijual. Atau digunakan sendiri untuk menanam tanaman hias, tanaman apotik hidup, atau tanaman sayuran/buah-buahan.
Proses Pengelolaan Sampah
Proses pengolahan sampah warga Gunung Batu kurang lebih sebagai barikut:
A. Pengumpulan Sampah Warga
Sampah warga dikumpulkan dari rumah ke rumah yang seluruhnya terdiri dari 6 RT. Sampah ini dikumpulkan oleh petugas yang khusus setiap 2 hari sekali dengan menggunakan gerobak sampah. Sampah-sampah ini dikumpulkan di tempat penampungan sementara. Petugas yang terdiri dari dua orang bekerja dari pagi sampah menjelang sholat dhuhur.


Sampah diangkut dengan gerobak dari rumah-rumah warga
B. Sortasi Sampah
Di tempat penampungan sampah, sampah-sampah ini disortasi. Ada dua petugas lagi yang bekerja untuk melakukan sortasi sampah ini. Sampah-sampah yang bisa didaur ulang dikumpulkan dan dibersihkan dari sampah yang lain. Sampah-sampah non-organik yang tidak bisa didaur ulang juga dipisahkan tersendiri. Sedangkan sampah organik yang tidak bisa didaur ulang dipisahkan untuk diolah menjadi kompos. Ada beberapa sampah organik yang tidak ikut dikomposkan, yaitu: kayu, bambu, tulang, dan tanduk. Sampah-sampah ini bisa dikomposkan tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga tidak sesuai jika dicampurkan dengan sampah organik yang lain. Selain itu jumlah sampah ini tidak terlalu banyak.
Sortasi sampah merupakan bagian yang cukup rumit. Banyak makan waktu dan tenaga. Saya memberi saran pada para pengelola untuk mulai mengajak warga memisahkan sampah organik dan nin organik sejak dari rumah-rumah. Hal ini perlu penyadaran yang terus menerus, mungkin perlu waktu lama tetapi harus dimulai sejak dari sekarang. Mungkin sebagai perangsang bisa dengan memberikan reward bagi warga yang mau memisahkan sampahnya. Rewardnya tidak perlu mahal-mahal, misalnya warga yang mau memisahkan sampahnya diberi hadiah tanaman hias atau tanaman-tanaman yang lain.

Gambar sortasi sampah.
C. Pengomposan
Sampah-sampah organik yang tidak bisa didaur ulang diolah menjadi kompos dengan menggunakan aktivator PROMI. Sebelumnya mereka pernah mencoba menggunakan aktivator-aktivator lain yang banyak dijual di toko pertanian. Namun, karena prosesnya agak ‘ribet’ dan membutuhkan banyak bahan tambahan, seperti: gula, kapur, pupuk kandang, dll mereka lebih memilih PROMI. PROMI tidak membutuhkan bahan tambahan, tidak memerlukan pencacahan, dan tanpa pembalikan. Hanya saja PROMI belum tersedia di pasaran luas, sehingga mereka harus membelinya di laboratorium saya. Untungnya tempatnya dekat jadi tidak terlalu menjadi masalah bagi mereka.

Saya memberi pejelasan pada warga tentang pengelolaan sampah rumah tangga
Proses pengomposan sampah warga dengan menggunakan PROMI dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Penyiapan PROMI
Karena umunya sampah warga mengandung kadar air cukup tinggi, maka PROMI tidak diencerkan dengan air. Pengenceran PROMI menggunakan tanah kering atau kompos yang telah jadi. JIka kadar air kurang maka ditambahkan sedikit air.

Penyiapan PROMI tanpa menggunakan air
2. Penyiapan Tempat Pengomposan
Tempat pengomposan dibuat dengan menggunakan pagar bambu. Di sekeliling pagar ini diberi lapisan plastik untuk menjaga suhu dan kelembaban. Plastik yang digunakan adalah plastik bekas. Bagian bawah/dasar tidak dilapisi plastik.
3. Penyiapan Sampah
Sampah organik dimasukkan ke dalam bak kompos selapis dengan tinggi kurang lebih 10 cm. PROMI yang telah diencerkan ditaburkan di atas sampah ini. Selanjutnya tumpukan sampah diinjak-injak agar sedikit memadat. Proses ini dilakukan berulang-ulang hingga bak penuh.

Menaburkan PROMI di atas sampah organik

Menginjak-injak sampah agar memadat
4. Penutupan dengan Plastik
Jika seluruh sampah organik pada hari itu telah selesai dimasukkan ke dalam bak kompos. Selanjutnya tumpukan kompos tersebut ditutup dengan plastik. Penutupan harus rapat untuk menjaga suhu dan kelembaban. Jika bak belum penuh, maka esok hari ditabahkan sampan organik lagi dengan cara yang sama hingga bak penuh.
Pemanfaatan Kompos/Pupuk Organik
Karena cuma satu RW, jumlah sampah organik tidak terlalu banyak. Kadang-kadang untuk membuat kompos mereka mengambil sampah dari pasar Gunung Batu yang letaknya tidak begitu jauh dari lokasi pengelolaan sampah. Setelah jadi kompos kira-kira dalam waktu 2-4 minggu, kompos tersebut dapat langsung digunakan. Kompos dapat juga dibuat menjadi pupuk organik. Pertama, kompos dikeringkan di bawah sinar matahari. Selanjutnya kompos diayak. Kompos yang halus dikemas dalam kantong plastik. Kompos ini bisa diual dengan harga cukup lumayan.
Saya menyarankan untuk memanfaatkan sendiri kompos tersebut. Jika akan digunakan sendiri, kompos tidak perlu diolah lebih lanjut. Lansung digunakan saja. Kompos ini dapat digunakan untuk menanam bermacam-macam tanaman. Misalnya saja tanaman hias. Kota Bogor salah satu sentra tanaman hias di Indonesia. Banyak tanaman hias yang bisa ditanam dengan kompos ini. Alternatif lain adalah menanam tanaman sayuran, bisa tomat, bayam, caisim, kangkung. Atau tanaman buah-buahan, seperti buah pepaya atau pisang yang waktu berbuahnya tidak terlalu lama. Kompos juga bisa digunakan untuk menanam tanaman obat/apotik hidup.
Tanaman ini bisa saja dijual atau disumbangkan untuk warga disekitar lokasi pengelolaan kompos.
Manajemen Pengelolaan Kompos
Untuk mengelola sampah ini warga mengadakan musyawarah. Pengelolaan sampah dilakukan oleh kelompok kecil. Pengelola ini dketuai oleh Pak RW, seorang bendahara dan beberapa pekerja (saat ini berjumlah 4 orang). Warga ditarik iuran per rumah. Besarnya iuran bermacam-macam, ada yang Rp. 3000, ada yang Rp. 5000, ada yang Rp. 10000, tetapi ada juga yang tidak membayar karena memang tidak mampu. Uang hasil iuran ini digunakan untuk membayar petugas pengelola, khususnya pekerja. Pekerja diambil dari warga setempat yang masih mengganggur. Jadi secara tidak langsung pengelolaan sampah ini juga membuka lapangan kerja bagi warga yang belum bekerja.
Setiap hari pekerjaan dibagi menjadi dua shift: shift pagi mulai dari jam 8 – 12 dan shift siang mulai dari jam 12 sampai jam 16. Setiap shift dua orang yang bekerja. Pekerja shift pagi bertugas untuk mengambil sampah dari rumah-rumah warga. Petugas shift kedua bertugas untuk memilih-milih sampah, mana sampah yang bisa didaur ulang dan mana sampah yang akan dikomposkan. Mereka kerja sehari libur sehari masuk, jadi hari kerjanya 15 hari kerja. Satu shift setiap pekerja diberi upah Rp. 10.000. tidak terlalu besar tetapi cukup lumayan untuk mereka. Selain itu para pekerja juga sering mendapatkan tip dari warga.
Pengelolaan sampah warga ini baru mulai. Jalan masih panjang. Biarlah waktu yang menentukan. Namun, melihat kesungguhan para pengelolanya saya yakin usaha mulia ini akan terus berkembang dan berhasil. Saya berusaha membantu mereka dengan pengetahuan yang kumiliki. Saya harap usaha ini dapat dikembangkan di tempat-tempat lain.
Link Terkait: Cerita Sampah, Masalah, dan Solusinya Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4 | Makalah Kompos








May 12, 2008 at 4:34 pm |
[...] Baca juga: Mengelola Sampah Warga di Perkampungan [...]
May 22, 2008 at 1:13 am |
Punteun pak, boleh saya copy g? saya mau terapkan di lingkungan rumah saya, tapi mau mulai sendiri dulu soale informasi yg bpk posting dah menjawab pertanyaan sy selama ini ttg mengelola sampah, thnx
May 28, 2008 at 8:41 am |
maaf ya pak saya mo copy……kayaknya bagus bgt klo diterapin di kampung saya…tks
May 29, 2008 at 2:17 pm |
saya doakan sukses terus pak..ngopy ya pak>> terimakasih
May 31, 2008 at 3:33 pm |
Silahkan, semoga bermanfaat.
June 18, 2008 at 2:18 am |
wah ide bagus kuwi . mengko tak terapno ning kampung..trims
June 18, 2008 at 2:48 am |
yo…mugo-mugo manfaat. Jare arep ngirim foto…?
June 22, 2008 at 10:39 am |
kebetulan kami akan mengadakan sosialisasi persampahan kepada masyarakat. semoga bisa diterapkan di kota kami
June 24, 2008 at 5:05 am |
Mas, saya mohon ijin untuk meng copy artikel ini sangat menarik. Trus kalo Promi harganya berapa..? terima kasih
July 3, 2008 at 7:30 am |
mas, klw mo bwt pupuk organik cair dr sampah rmh tangga spy tdk bau menyengat bgmn?
July 3, 2008 at 7:33 am |
kmrn coba bwt kompos dgn promi tapi tdk berhasil dgn baik, mhn petunjuk.
July 3, 2008 at 4:20 pm |
Pupuk cair setahu saya bau semua. Kapan-kapan saya lihat cara pengomposannya, Pak Ifan.
July 4, 2008 at 2:38 am |
saya dpt informasi katanya pupuk organik cair spy tdk bau hrs dicampur dengan Argon, betul tdk mas?
July 4, 2008 at 2:46 am |
mas, sy sdh coba bwt kompos cair organik dari jeruk busuk dan sayuran dgn gunakan em4 apakah bisa em4 diganti dengan gunakan promi?
July 26, 2008 at 1:50 pm |
Saya 2-3 hari sekali bikin kompos selama komposter saya masih bisa muat. saya bikin sendiri aktivator cair, bahan awalnya EM4 dari toko selanjutnya saya perbanyak sampai sekarang dan tidak perlu beli lagi ke toko. ( cukup hanya sekali saja belinya 4 bulan y.l.) proses pengomposan tidak mengalami bau busuk, memang berbau khas tidak menyengat. Bila proses pengomposan bau menunjukkan penyemprotan aktivator kurang. Saya tidak perlu mengaduk aduk kompos. setiap kali saya tambah sampai penuh. ( mini komposter ukuran 20 liter bikin sendiri, menghasilkan kompos padat dan cair / air lindi )
August 22, 2008 at 2:59 pm |
Salam
Wah, trims banget nih.
Saya pusing dengan sampah di rumah jadinya pengen buat kompos juga nih. Pengen mulai tapi ngga tau gimana. Untung ada gambar2nya di sini. Saya save as boleh ya. Entar kalo ada masalah mohon petunjuk teknisnya ya ……
August 25, 2008 at 11:29 am |
pak saya tertarik untuk membuat kompos dari sampah pemukiman
bagaimana saya bisa mendapatkan promi dari bapak
berapa harga perliternya dan cara penggunaannya.
terimakasih
September 11, 2008 at 3:04 pm |
apa khabar mas? sy sdh coba kompos dgn gunakan promi dan dipakai pada cabe dan tanaman hias. alhamdulilah phn cabe setinggi satu jengkal sdh berbunga dan tanaman hiaspun subur daun lebih lebar, trimakasih mas salam bwt pa udin.
September 11, 2008 at 8:53 pm |
Kabar baik, Pak Ifan. Selamat ya… Saya pingin lihat juga hasil komposnya. Katanya sudah dipacking juga ya….????
September 12, 2008 at 8:54 am |
dimana bisa beli promi. bagaimana keamanan penggunaannya mengingat promi identik dengan bakteri.
apakah kompos yang sudah terbentuk bisa digonakan sebagai aktivator. berapaperbandingan sampah dengan kompos yang sudah jadi. terima kasih
September 15, 2008 at 2:18 am |
di mana dapat beli PROMI? berapa harganya?
Trimakasih
http://www.mathorisliterature.blog
September 24, 2008 at 1:36 pm |
utk kompos blm dipacking mas, yg dipacking media tanam (kompos + tanah) mengingat penggunaan kompos hrs + tanah dan konsumen ga usah repot2 utk beli tanahnya juga. Biar praktis mas … siap tanam. Kemasan uk 5 kg dgn tulisan Media Tanam Organik. Lokasi pembuatan dan proses kompos di wilyh pa udin Rt04 Rw03 Kalibata Bt.Jati tepatnya jl. Samiaji ujung (rumah kost komala) Indraprasta I Bt.jati, dekat Wisma IDI. Yg kelola Bp Sabeni dan Muhyidin (Mumuh). klw mas is, ada waktu sy tunggu kedatangannya. Trims.
October 27, 2008 at 9:16 am |
Mohon informasi untuk mendapatkan PROMI (berikut tempat pembelian dan harga).
Terimakasih.
October 31, 2008 at 9:16 am |
Thanks mas isroi atas infonya
kebetulan banget saya n temen2 punya rencana ngasi pelatihan bikin kompos dari limbah rumah tangga ke ibu2 . Info mas sangat bermanfaat. Apakah setelah kompos jadi bisa disimpan dulu sebelum digunakan? klo bisa untuk jangka waktu brapa lama?
Thanks
November 3, 2008 at 3:43 am |
Terima Kasih atas informasinya mas,
Mudah-mudahan bisa juga diterapkan di rw saya.
November 10, 2008 at 2:58 am |
Terima kasih infonya. semoga dapat saya terapkan di sekolah tempat saya bekerja.
November 14, 2008 at 1:04 am |
salm kenal pak isroi..
saya mau tanya..
kalau bahan pembuatan pupuknya dari hasil kerja bakti di kebun (campuran dari rumput,tanaman penggangu, tanaman kecil yang beranting) itu bagaimana caranya, apakah harus di cacah atau tidak?
terus pencampur aktivator nya pakai air atau pasir kering?
apakah tetap harus menggunakan cetakan atau tidak?
terimakasih sebelumnya,…
November 14, 2008 at 8:49 am |
selamat sore pak isroi, saat ini saya sedang membuat buku mengenai sampah berbasis masyarakat dan tertarik untuk memasukkan warga gunung batu sebagai salah satu narasumbernya. apakah pak isroi bisa memiliki data tentang jumlah timbulan sampah yang dihasilkan warga dan yang berhasil diolah. saya sangat membutuhkan informasi ini. bapak dapat menghubungi saya di utari@qipra.com. terima kasih
salam
utari
November 15, 2008 at 9:49 am |
Silahkan semoga bermanfaat.
November 15, 2008 at 9:58 am |
Wassllm,
Pak Fadly,
Pada prinsipnya semua bahan organik bisa dikomposkan. Tetapi memang ada yang mudah dan ada yang sulit. Sebagian besar bahan organik mudah dikomposkan. Contoh bahan yang sulit adalah : kayu keras, bambu, batang pohon, dan lain-lain. Sedangkan yang sangat sulit adalalah tulang, rambut, dan tanduk.
Kalau ranting-ranting kecil tidak perlu dicacah. Dipotong-potong kecil-kecil saja sudah cukup.
Cetakan bambu, air, atau pasir hanya alat saja. Bisa diganti dengan bahan lain atau cara lain, yang peting fungsinya saja.
Selamat membuat kompos, semoga berhasil.
Wassalam,
isroi
November 19, 2008 at 5:05 am |
Tks infonya pak Isroi. Kebetulan saya sedang mencari referensi mengenai pengelolaan sampah kota besar di Indonseia. Isi blog ini saya link kan ke blog saya ya pak ! http://esthernbbn.wordpress.com/.
Salam, esther
December 8, 2008 at 3:48 am |
Terimakasih ilmunya. Saya ibu rumah tangga juga seorang guru IPA di SMK, saat ini saya memerlukan ilmu untuk mengelola sampah rumah tangga dan sampah sekolah. Sekali lagi terima kasih,
December 20, 2008 at 1:37 am |
[...] mengolah sampah menjadi mewah By ayastar Masalah sampah menjadi salah satu permasalahan di setiap kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Penangangan masalah sampah yang tidak baik akan menimbulkan dampak yang luas, tidak saja bagi lingkungan, tetapi juga berdampak buruk bagi perekonomian, dan sosial. Contoh kongkrit adalah permasalahan sampah di kota Bandung beberapa waktu yang lalu.Penanganan masalah sampah sebenarnya tidak terlalu susah. Namun juga tidak sederhana. Untuk menangani masalah sampah ini diperlukan kemauan yang kuat baik dari pemerintah maupuan masyarakat. Kami ingin berbagi pengalaman tentang penanganan sampah organik pasar. Kegiatan ini adalah hasil kerjasama Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia dengan Yayasan Danamon Peduli. Tulisan ini ditulis berdasarkan laporan dari Dian Al Arief B yang berada di lapangan selama beberapa minggu. Semoga bermanfaat. Baca juga: Mengelola Sampah Warga di Perkampungan [...]
December 24, 2008 at 3:19 am |
saya sdg cari info mengelola sampah, membaca ini menambah pengetahuan… terima kasih atas infonya pak. Minta izin mengcopy ya…
January 13, 2009 at 7:51 am |
maaf pak,,
saya boleh bertanya…
Mmm..
sebelum bapak melaksanakan program di atas tadi,,
apakah ada kendala dengan kondisi sosial masyarakat disana??
berapa jumlah biaya awal untuk program tersebut??
trima kasih
January 14, 2009 at 6:28 am |
Saya hanya membantu teman saya, Pak Djajad, yang melaksanakan program itu. Pada awalnya masyarakat tidak peduli dan tidak memberi perhatian pada progam itu. Kebetulan ketua pengelolanya adalah Ketua RW, Pak Wawan. Kira-kira awalnya cuma 3-4 orang saja. Kira-kira selama 7 bulan mereka merintis program itu, mungkin karena kesabaran dan keteguhan mereka, akhirnya program itu bisa berhasil sampai saat ini. Sekarang banyak orang yang pingin ikut. Masyarakat sekitar mulai tertarik dan merasakan manfaat dari kegiatan ini.
January 26, 2009 at 8:23 am |
saya dukung pak, semoga cara bapak itu merupakan amanah bapak menjadi alam semesta ini dari kerusakan sampah.
January 26, 2009 at 8:24 am |
saya dukung pak, semoga cara bapak itu merupakan amanah bapak menjaga alam semesta ini dari kerusakan sampah.
January 28, 2009 at 3:55 pm |
Aslm,pak boleh alamat lengkap pak Djajat?saya ingin survei kesana..terimakasih.jazakallah.
January 29, 2009 at 4:02 am |
Lho..kan difotonya sudah jelas sekali alamat pengolahan sampah itu. Lokasinya ada di Gunung Batu, Bogor. Tepatnya dekat pasar Purbasari Gunung Batu.
January 29, 2009 at 8:16 am |
Iya pak,maksud saya contact person?VIA Email saja pak.terimakasih.
January 31, 2009 at 4:30 am |
Dimana mendapatkan mesin penghancur kompos.
thank,s
February 14, 2009 at 1:55 pm |
wah makasih banget data dan infonya. saya ingin buat pelatihan pengolahan sampah bagi pemuda kampung. mohon sarannya.
March 12, 2009 at 7:13 am |
Pak, saya sdg cari info mengelola sampah, dan sampailaj pada blog Bapak. Mohon ijin meng-kopi ya Pak?
June 26, 2009 at 10:18 am |
klo promi nyarinya dimana tuh….di sumbarudah ada belum????