Standar Dolomit (SNI 02-2804-1992)

No. Uraian Persyaratan
1 MgO, % Min. 18
2 CaO, % Min. 30
3 Al2O? + Fe2O?, % Max. 3
4 SiO2, % 3
5 Kadar air, % Max. 5
6 Bentuk tepung  
7 Lolosan saringan 40mesh,% 100
  Lolos saringan 60mesh, % Max. 50

Mengelola Sampah Pasar: Mudah dan Murah

Mengelola sampah pasar ini berbeda dengan pengolahan sampah pasar yang sudah saya tuliskan sebelumnya (Sampah Pasar Buderan Sragen). Metode pengolahan sampah pasar ini lebih sederhana dan dalam beberapa hal lebih baik daripada yang sebelumnya.

Sampah pasar memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan sampah dari perumahan. Komposisi sampah pasar lebih dominan sampah organik. Sampah-sampah plastik jumlahnya lebih sedikit daripada sampah dari perumahan. Apalagi jika sampahnya berasal dari pasar sayur atau pasar buah-buahnya. Limbahnya lebih banyak sampah organiknya. Topik yang saya tulisakan di sini rasanya lebih cocok untuk sampah-sampah dari pasar, lebih khusus lagi sampah-sampah dari pasar sayur dan buah. Sampah pasar diolah menjadi kompos dan pupuk organik granul.
Read the rest of this entry »

Syarat mutu pupuk fosfat untuk pertanian (SNI 02-3776-2005)






























































































































No.

Uraian

Satuan

Persyaratan







Mutu A

Mutu B

Mutu C

Mutu D

1.

Kadar unsur hara fosfat sebagai P2O5













- total

% b/b

Min. 28

Min. 24

Min. 14

Min. 10



- larut asam sitrat 2%

% b/b

Min. 7

Min. 6

Min. 3,5

Min. 2,5

2.

Kadar air

% b/b

Maks. 5

Maks. 5

Maks. 5

Maks. 5

3.

Kehalusan













- kehalusan lolos 80 mesh

% b/b

Min. 50

Min. 50

Min. 50

Min. 50



- kehalusan lolos 25 mesh

% b/b

Min. 80

Min. 80

Min. 80

Min. 80

4.

Cemaran Logam:













- Cadmium (Cd)

ppm

Maks. 100

Maks. 100

Maks. 100

Maks. 100



- Timbal (Pb)

ppm

Maks. 500

Maks. 500

Maks. 500

Maks. 500



- Raksa (Hg)

ppm

Maks. 10

Maks. 10

Maks. 10

Maks. 10

5.

Cemaran Arsen (As)

ppm

Maks. 100

Maks. 100

Maks. 100

Maks. 100


Catatan:
1. Semua persyaratan kecuali kadar air dan kehalusan dihitung atas dasar bahan kering (adbk).
2. Dalam peredarannya dapat diperjualbelikan berbentuk granular.

Pupuk Organik Granul Premium

Pupuk organik granul (POG) memang sedang ‘naik daun’ beberapa waktu ini. Salah satu sebabnya adalah dukungan pemerintah untuk memberikan subsidi POG. Banyak sisi positifnya, tetapi sisi negatifnya ada juga. Salah satu sisi negatifnya adalah banyak POG yang dibuat asal-asalan, yang penting memenuhi spek, dapat untung, ngak peduli dengan kualitasnya. Broker-broker POG berkeliaran di mana-mana, pengusaha POG skala kecil yang tidak paham bisa kena getahnya. Yang dapat PO-pun yang penting memenuhi komitmennya, yang kadang-kadang tidak peduli dengan kualitas POG.
Read the rest of this entry »

Kue Rejeki Pupuk Organik Granul (POG)

Kebutuhan Bahan Organik Sangat Besar Sekali

Pemerintah berencana untuk memberikan subsidi pupuk organik granul (POG) pada petani. Jumlah POG yang disediakan pemerintah sangat besar sekali, kurang lebih 200 ribu ton atau 200 juta kilogram. Untuk memenuhi kebutuhan POG tersebut diperlukan bahan baku berupa bahan organik yang sangat besar. Selain itu juga diperlukan bahan-bahan tambahan lain seperti: fosfat alam, dolomit, kaptan, zeolit, arang, abu, dan mikroba.

POG01
Salah satu POG yang disubsidi pemerintah.

Sebagai contoh, andaikan bahan kompos yang diperlukan adalah 75% dari total POG maka dibutuhkan sekitar 150 ribu ton. Kadar air POG maksimal 15%, sedangkan kadar air kompos yang umum kurang lebih 55-60%. Jadi kebutuhan kompos curahnya kurang lebih 318,75 ribu ton.
Read the rest of this entry »

Pengomposan Limbah Kopi dan Kakao

KepMentan Tentang HET Pupuk


Berikut ini kepmentan tentang het harga pupuk bersubsidi, semoga bermanfaat bagi yang memerlukan.


Fosfat Alam Granul Diperkaya Mikroba

pupuk granul fosfatalam04


Baca juga: Mikroba Pelarut Fosfat untuk Memenuhi Kebutuhan Pupuk Fosfat | Uji Mikroba Pelarut Fosfat 1 | Uji Mikroba Pelarut Fosfat 2 | Media Pikovskaya | Isolasi Mikroba Pelarut Fosfat


Seperti yang sudah saya sampaikan di posting sebelumnya, kalau saya sedang membuat pupuk fosfat yang diperkaya dengan mikroba pelarut fosfat. Pupuk ini dibuat untuk mengisi kekosongan pupuk fosfat di pasaran saat ini. Foto di atas adalah prototipe pupuk fosfat yang sudah jadi. Prototipe ini sedang diuji di rumah kaca. Bentuk granulnya belum sempurnya, karena masih dibuat secara manual. Jika dibuat dengan mesih, bentuknya bisa lebih halus dan seragam.
Read the rest of this entry »

Mikroba Pelarut Fosfat untuk Memenuhi Kebutuhan Pupuk Fosfat


Baca juga: Fosfat Alam Granul || Uji Mikroba Pelarut Fosfat 1 | Uji Mikroba Pelarut Fosfat 2 | Media Pikovskaya | Isolasi Mikroba Pelarut Fosfat


Beberapa waktu yang lalu saya membutuhkan pupuk fosfat (SP36 atau TSP) untuk percobaan rumah kaca. Namun, saya terkejut ketika sulit sekali mendapatkan pupuk fosfat ini. Beberapa toko pertanian langganan kami menyatakan bahwa pupuk SP36 sudah tidak diproduksi lagi. Kami sempat mendapatkan beberapa kg pupuk SP36 tetapi ketika di test di lab ternyata kandungan P2O5-nya hanya 20%, padahal seharusnya 36%. Ketika kami coba komplain ke penjualnya, dia justru menawarkan pupuk TSP, tetapi kadar P2O5-nya hanya 18%. Gemblung. Kesel sekali rasanya.
Read the rest of this entry »

Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Pupuk Organik In Situ untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia dan Subsidi Pupuk

jerami dari sisa panen padijerami dari sisa panen padi


Makalah disampaikan pada diskusi dengan Sekretaris Menteri Pertanian, Dr. Abdul Munif, di Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, Kamis, 7 Mei 2009


Download file doc makalah ini: Klik di sini

Baca juga Kompos Jerami: Mudah, Murah, & Cepat | Video Cara Pembuatan Kompos Jerami | Download Buku Budidaya Padi Sehat | Nilai hara kompos jerami


Pendahuluan

Permasalahan pupuk hampir selalu muncul setiap tahun di negeri ini. Permasalahan tersebut antara lain adalah kelangkaan pupuk di musim tanam, harga pupuk yang cenderung meningkat, beredarnya pupuk palsu, dan beban subsidi pemerintah yang semakin meningkat. Beberapa upaya dan program telah digulirkan oleh pemerintah melalui Departemen Pertanian RI. Sebagai contoh, subsidi pupuk kimia untuk petani, namun implementasi di lapangan masih banyak penyelewengan yang merugikan petani dan pemerintah.

Alternatif pupuk kimia adalah pupuk organik. Petani di dorong untuk menggunakan pupuk organik sebagai penganti/alternatif pupuk kimia. Baru-baru ini Deptan juga mengeluarkan kebijakan untuk memberikan subsidi pupuk organik. Penyediaan pupuk organik diserahkan kepada BUMN atau perusahaan pupuk besar dengan mekanisme penyediaan yang mirip dengan pupuk kimia. Dikawatirkan masalah yang terjadi pada pupuk kimia akan terulang pada penyediaan pupuk organik granul ini apabila masih melibatkan perusahaan-perusahaan pupuk kimia. Beberapa tahun sebelumnya pemerintah juga pernah mengeluarkan program GO ORGANIK 2010, tetapi gaung program ini seperti kurang terdengar.

Penggunaan pupuk kimia secara intensif oleh petani selama beberapa dekade ini menyebabkan petani sangat tergantung pada pupuk kimia. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia juga menyebabkan kesuburan tanah dan kandungan bahan organik tanah menurun. Petani melupakan salah satu sumber daya yang dapat mempertahankan kesuburan dan bahan organik tanah, yaitu: JERAMI. Pemanfaatkan jerami sisa panen padi untuk kompos secara bertahap dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas padi.

Diperkirakan kandungan bahan organik di sebagian besar sawah di P Jawa menurun hingga 1% saja. Padahal kandungan bahan organik yang ideal adalah sekitar 5%. Kondisi miskin bahan organik ini menimbulkan banyak masalah, antara lain: efisiensi pupuk yang rendah, aktivitas mikroba tanah yang rendah, dan struktur tanah yang kurang baik. Akibatnya produksi padi cenderung turun dan kebutuhan pupuk terus meningkat. Solusi mengatasi permasalah ini adalah dengan menambahkan bahan organik/kompos ke lahan-lahan sawah. Kompos harus ditambahkan dalam jumlah yang cukup hingga kandungan bahan organik kembali ideal seperti semula

Read the rest of this entry »