Merajut Mimpi

Ku rebahkan badan di pangkuan malam yang menaruh kasihan pada mata yang tidak bisa terpejam. Dibelaiannya kurajut mimpi dari benang-benang imanjinasi. Pikiran mengelana ke dunia misteri. Mengembara ke negeri-negeri tanpa batas.

Serpihan-serpihan kutemukan sepanjang jalan. Ku jumputi potongan-potongan berserakan. Orang-orang dengan pandangan aneh penuh tanya: apa yang kau cari? Orang gila. Aku melihat. Apa yang tak terlihat. Aku mencari. Apa yang tersembunyi.

Ku susun potongan-potongan mimpi. Ku bangun bata demi bata membumbung tinggi. Di negeri ini semua tersedia. Di negeri ini semua boleh terjadi. Di negeri bebas merdeka. Semua boleh berbuat apa saja. Tak ada batas pembatas. Hukum alam tidak berlaku di sini.

Mimpiku menjulang tinggi. Awang-awang. Langit.

Di gelapnya antariksa. Aku mengelana.

Jogja, 181108

3 x 3.5

Sendiri. Sendirian. Sepi. Kembali ke masa-masa lalu. Kenangan-kenangan lama yang menggugah jiwa. Goresan-goresan tinta lusuh di buku tua. Ingatan itu kembali berduyun-duyun menuju lubuk hati. Iringan tembang kenangan masuk dari telingan ke sanubari. Apa yang ku cari….????

Hampa datang. Perjalanan jauh yang telah ku tempuh membawaku entah ke mana. Aku asing di tempat terasing. Mimpi-mimpi. Menggantung di awang tinggi.

Lari-larilah. Kan ku kejar. Sembunyi. Kan ku cari. Pergi. Kembali lagi. Rintik hujan. Gemuruh badai di awan. Gelap. Petir menyambar. Kan ku kejar.

Gambar. Gambaran. Angan-angan. Peta-peta khayalan. Samar-samar kembali. Biar lah. Terbuka lah. Wahai…semua yang terkubur. Bangkitlah…..!!!!

Kucari lagi jejak-jejak itu. Mata air. Bekas-bekas masa lalu. Puing-puing masa depan. Kembali mencari dasarnya lagi. Telanjang. Borok-borok. Bekas-bekas luka. Bopeng. Koreng. Apa adanya.

Ku cuci baju lusuhku. Ku basuh wajahku. Mandi badanku. Di oase ini. Jernih airnya untuk berkaca. Daki-daki larut semua. Selamat tinggal.

Ku susun lagi. Potongan-potongan puzzle. Reruntuhan masa depan. Jalanan batu setapak. Rambu-rambu.

Kembali. Berangkat lagi.

Jogja, Nov 2009
isroi

Bila Mati

Bila aku mati nanti
Aku ingin menikmati
hangatnya api neraka

Karena surga
sudah kudapatkan
di dunia

[april 1990]

Posted in MyPoems. Tags: . 2 Comments »

Belajar

Duduk di bangku
dengan cahaya lentera
dengan tangan terbuka

Coba memahami kata-kata
Coba menerjemahkan bahasa

Dengan terkatuk-katuk
Terus mengganjal mata

Namun apa akhirnya?
Semuanya lupa

[Magelang 03/89]

Posted in MyPoems. Tags: . Leave a Comment »

Sebuah Kapal yang Tiba-tiba Berhenti di Tengah Samudra

Sebuah kapal telah mengarungi samudra
Dengan nakhoda yang terus berteriak-teriak
tenpa ada ujung pangkalnya
Perutnya tampak gendut kekenyangan air laut
Anak buahnya tanpak kelelahan
mengayuh dayung
Yang hanya minum keringatnya sendiri
Yang tak kalah asin denga air laut
Benderanya tampak kuyu enggan berkibar
Anginpun sudah berhenti meniup layar
Kemudian satu per satu anak buahnya roboh
tapi tangannya masih tampak kuat memegangi dayungnya
Walaupun tidak bergerak sejengkal pun
Sang nakhoda terus berteriak-teriak
Walaupun ia tahu anak buahnya
sudah tidak mendengar apa-apa lagi

[Magelang, 06/88]

Posted in MyPoems. Tags: . Leave a Comment »

Kabut Tebal

“Itu bulan”, katamu
“Bukan, itu matahari”, sahutku
“Itu bulan…!!!”, katamu ngeyel
“Bukan, itu matahari.
Bulan sudah dimakan Betara Kala kemarin”, sahutku
“Itu bulan…!!!!”, katamu dengan suara tinggi
“Itu matahari, cuma karena sekarang banyak kabut jadi seperti bulan”, jelasku
“Itu bulan…..!!!!!!”, teriakmu

Matamu yang bening terpaku menatapnya
Tak berkedip
Dan kau tetap pada pendirianmu
Bahwa itu bulan
“Matahari tak pernah keluar malam, kan ?” gumanmu

Kabut makin tebal
Kita sama-sama ragu, apakah itu bulan atau matahari,
Karena tak lagi jelas perbedaan
Siang atau malam

[Pringamba, 21-9-97]

Posted in MyPoems. Tags: . Leave a Comment »

***

*
Huru-huruf bicara tanpa kata
Pena tak lagi menari-nari
Hanya kita termanggu dalam sendiri
Tak tahu kau atau aku
Hanya angin semilir meniup resah

Magelang, Oktober 1989

Posted in MyPoems. Tags: . Leave a Comment »

Suaramu

Suaramu merayap-rayap
Lewat kebel
menyembur keluar lewat loudspeker
kemudian tanpa permisi nyelonong
masuk telingaku

Ya….Allah….
Suara apa ini…????!!!
Merdunya melebihi desiran
ombak lautan
Lembutnya melebihi bisik
dedaunan
Tenangnya melebihi gemericik
air pegunungan

Lewat celah-celah sempit
suaramu menuju telaga darahku
dengan riang berenang menuju
jantungku

Di sana
setelah melewati beribu-ribu pintu vena
suaramu menggelegar
memukul tambur
bertalu-talu

Purwokerto, April 1994

Posted in MyPoems. Tags: . Leave a Comment »

Sajak Lilin

Lilinku sudah hampir padam
Sebentar lagi gelap datang
Dan hitam pekat yang ada
Lilinku beku tiba-tiba
Karena dingin dan gelap pekat
Karena dingin……………
………….karena gelap pekat
Lilinku musnah
Aku bimbang
Dan hatiku juga padam

Magelang, Feb 90

Posted in MyPoems. Tags: . Leave a Comment »

Pagi-pagi

Pagi aku bangun
suasana sepi
Pagi itu aku buka pintu
mentari pucat pasi

Dan seekor laron
melintas bebas
menikmati sepi
tanpa burung
tanpa cicak

Aku lihat juga
dua gadis kecil
belajar naik sepeda
yang satu luka dilututnya
yang satu malah takut berdua
kemudian keduanya tertawa
tanpa menghiraukan
seekor laron yang merangkak sedih
tak bisa terbang lagi

Magelang, Des 89

Posted in MyPoems. Tags: . Leave a Comment »