Ini cerita tentang penelitianku.
Aku berusaha untuk tetap fokus pada penelitianku. Banyak amanah yang aku emban, entah dengan sukarela, terpaksa, atau korban rekayasa. Secuil waktu yang kumiliki semakin terbagi-bagi. Salah satu yang jadi korbanya adalah waktu untuk nge-lab. Mau ngak mau, suka ngak suka, rela tidak rela, lab hanya aku singgahi sebentar saja.
Aku berusaha untuk tetap fokus pada penelitianku. Setiap malam meskipun sejenak aku coba untuk merangkai kembali ‘mimpi-mimpi’ dan membangun kembali langkah-langkah itu. Aku coba sempatkan untuk membaca jurnal-jurnal yang numpuk di sudut-sudut mejaku. Atau sekedar browsing untuk melihat perkembangan-perkembangan baru.
Read the rest of this entry »


















Mengukur kadar bioetanol dalam cairan fermentasi adalah salah satu hal penting yang harus kita ketahui, jika kita ingin membuat bioetanol. Ada banyak cara untuk mengukur bioetanol. Mulai dari cara yang paling mudah, rumit, dan paling canggih. Setiap metode pengukuran memiliki keunggulan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Beberapa metode itu adalah analisis dengan GC (Gas Chromatography), HPLC (High Performance Liquid Chromatography), metode enzym, dan hydrometer. Tiga metode yang pertama sangat sensitif, dapat mengukur kadar bioethanol dalam konsentrasi yang sangat rendah, tetapi juga lebih rumit dan mahal. Metode enzym relatif lebih mudah dan murah dibandingkan dengan metode GC atah HPLC. Saat ini tersedia beberapa produk enzym kit untuk mengukur bioetanol. Tetapi metode ini masih cukup mahal untuk ukuran UKM atau rumahan. Metode terakhir adalah metode yang paling mudah, murah, tetapi juga kurang teliti. Meskipun begitu untuk ukuran UKM atau rumahan rasanya sudah cukup memadai.

