Impian Bioethanol Skala Kecil
Mewujudkan teknologi bioethanol selulosa skala kecil adalah impianku, tetapi ‘jalan masih panjang’. Masih diperlukan banyak coba-coba, uji coba, dan penelitian. Dan semua itu membutuhkan biaya dan peralatan yang tidak sedikit bin tidak murah . Saya akan terus berjuang mewujudkan mimpi ini. Dalam mimpiku, suatu saat nanti akan banyak pengrajin bioethanol skala kecil diseluruh pelosok negeri. Seperti halnya pengrajin ethanol dari tetes yang sudah ada di beberapa daerah. Harapanku negeri ini akan mandiri energi. Setiap orang (asal mau) bisa membuat ‘bensinnya’ sendiri.
Aku berusaha untuk selalu menuliskan apa yang aku tahu dan apa yang sudah aku pelajari. Biarlah ilmu itu tersebar ke semua orang yang menginginkannya.
Masih Banyak yang harus Dilakukan
Teknologi bioethanol terus berevolusi. Saat ini teknologi ethanol dari gula dan pati sudah sangat mapan. Bioethanol dari selulosa adalah pengembangan dari teknologi yang sudah ada. Perbedaannya hanya dua tahapan di muka, yaitu: pretreatment dan hidrolisis lignoselulosa. Teknologi yang sekarang dikembangkan umumnya untuk industri besar, untuk skala kecil masih belum tersedia.
Jadi ada dua tahapan yang perlu dikembangkan dalam skala kecil: pretreatment dan hidrolisis. Mewujudkan agar teknik pretreatment dan hidrolisis menjadi sederhana dan bisa dilakukan oleh semua orang ternyata tidak mudah. Inilah tantangannya. Memang tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin.
Untuk pretreatment misalnya, harus dicari bahan yang murah dan banyak tersedia di sekitar masyarakat. Kemudian dicari cara-nya bagaimana agar mudah dan murah. Setelah itu dicari juga peralatan yang paling efisien, tetapi tetap murah dan mudah.
Teknik hidrolisis menawarkan banyak pilihan. Yang sudah cukup mapan adalah hidrolisis dengan kimia/fisika. Kedua adalah hidrolisis dengan enzim. Cuma biayanya masih muahal zekali untuk skala kecil. Ini tantangan kedua. Ada dua pilihan, mau hidrolisis dengan kimia/fisika atau dengan enzim. Untuk mengetahui jawabannya, harus dilakukan penelitian dan uji coba. Pekerjaan yang tidak mudah dan tidak murah.
Berikutnya adalah tahapan fermentasi dan pemurnian ethanol. Ini sih relative lebih mudah untuk dilakukan. Hanya perlu optimasi saja, agar bisa dilakukan dalam skala kecil yang ekonomis.
Keterbatasanku
Ada banyak yang ingin aku lakukan untuk mewujudkan teknologi bioethanol skala kecil ini. Tetapi banyak sekali keterbatasan yang menghambat wujudnya mimpi-mimpiku ini.
1. Ketiadaan Fasilitas yang Memadai
Untuk melakukan penelitian ini perlu fasilitas yang memadai. Tidak perlu yang canggih-canggih, memadai saja sudah cukup. Tetapi inilah yang tidak aku miliki. Aku tidak punya lab kecil sendiri yang bisa untuk coba-coba. Aku tidak punya alat-alat sederhana yang bisa digunakan untuk melakukan uji coba dan coba-coba.
2. Dana yang Mencukupi
Terus terang, penelitian itu tidak murah. Banyak bahan yang harus dibeli, banyak alat yang harus dibeli atau dibuat, banyak tenaga pembantu yang diperlukan (karena tidak mungkin aku lakukan sendirian). Dan itu semua perlu dana alias duit yang cukup. Masalahnya adalah saya tidak cukup memiliki dana itu.
Uji coba itu seperti ‘gambling’ yang terarah. Kadang-kadang berhasil dan kadang-kadang gagal. Kegagalan biasanya lebih banyak dari keberhasilannya. Tetapi dari setiap kegagalan itu kita bisa belajar dan selangkah lebih maju. Nah..setiap kegagalan itu selalu ada dana yang menyertainya, dana untuk bahan, dana untuk alat, dan dana untuk tenaga.
Jadi kalau dana saya sedikit, sedikit juga yang bisa saya coba, sedikit juga yang gagal, lebih sedikit lagi yang berhasil. Artinya lebih lama mimpi ini bisa terwujud.
3. Keterbatasan Tenaga dan Pikiran
Tidak mungkin setiap ujicoba ini saya pikir sendiri, dan saya lakukan sendiri. Saya tetap membutuhkan bantuan dari orang lain. Ini juga yang belum saya miliki. Saat ini yang saya miliki baru otak satu dikepala dan tenaga di badan. Itu masih harus berbagi dengan kerja mencari uang untuk keluarga, sedikit untuk dimasyarakat, dan sisanya untuk mikirin mimpi ini. Oleh karena itu yang banyak saya lakukan adalah berfikir dan berfikir. Saya belajar ke sana ke mari. Merenung sejenak. Dan berfikir bagaimana caranya teknologi ini bisa terwujud. Ada banyak rancangan dan rencana di kepala saya. Semua menunggu untuk dicoba dan dikembangkan.
Apa yang Aku Perlukan
Seperti yang sudah aku uraikan di atas, keperluanku terkait dengan keterbatasanku.
Fasilitas yang Memadai : Pabrik Bioethanol Mini
Pertama agar aku bisa melakukan uji coba, aku harus memiliki sebuah pabrik mini bioethanol. Di sini tersedia alat-alat untuk membuat ethanol, meskipun ukurannya kecil dan sederhana. Alat-alat itu antara lain adalah:
1. Fermentor. Ini bisa dibuat dengan bahan yang sederhana dan murah.
2. Distilator. Nah ini alat yang lumayan mahal.
3. Reaktor Hidrolisis. Ini juga lumayan mahal. Karena untuk percobaan, jadi perlu ada beberapa sensor dan harus bisa dioptimasi sesuai kebutuhan.
4. Reaktor Pretreatment. Ini bisa murah atau mahal, tergantung apa yang akan dicoba.
5. Peralatan pendukung. Banyak sekali yang diperlukan, ada yang murah dan ada yang mahal. Misalnya: alat-alat gelas, tangki-tangki, heater, kompor, panci, komputer, meja kursi, dan lain-lain.
6. Peralatan analisa: beberapa alat analisa yang diperlukan seperti: timbangan analitik, pH meter, thermometer digital, oven, alcohol meter, brik meter, autoclave dan lain-lain.
7. Bahan-bahan. Bahan-bahan yang diperlukan mulai dari bahan baku sampai bahan untuk analisis dan uji coba. Harganya tentunya bervariasi.
8. Ruangan. Semua alat itu perlu ditempatkan di ruangan khusus. Semacam lab kecil. Ukuran satu kamar sudah cukup.
Itu kira-kira daftar fasilitas minimal yang aku perlukan untuk mewujudkan mimpi ini.
Dana Penelitian yang Cukup Memadai
Kalau motor bahan bakarnya bensin, maka penelitian bahan bakarnya ‘dana’. Penelitian membutuhkan dana yang cukup banyak. Kalau dananya lancar, penelitian juga lancar. Kalau dananya seret penelitian juga seret.
Tenaga Pembantu
Sudah saya sampaikan di atas: “ngak mungkin dilakukan sendiri”, oleh karena itu saya perlu orang untuk membantu melaksanakan penelitian ini.
Bantuan dan Donasi
Kalau Anda peduli dengan nasib bangsa ini, peduli dengan krisis energi, dan peduli dengan kelangsungan kelestarian bumi ini, anda bisa membantu saya untuk mewujudkan ‘mimpi ini’. Segala bantuan akan saya terima dengan senang hati, terutama yang ‘tulus ikhlas’. Anda mau menyumbang/meminjamkan ruangan akan saya terima. Anda yang mau menyumbangkan alat akan saya terima juga. Anda mau punya kelebihan dana dan mau menyumbangkan akan saya terima juga.
Jika Anda ingin menyumbangkan dana, bisa ditransfer ke rekening berikut ini:
BCA:
No. Rek. 174 125 0514
KCP BCA Kebong Kembang a.n. Isroi
BNI:
No. Rek. 015 454 8177
BNI Cab. Bogor
Saya akan berusaha menggunakan dana-dana itu untuk mewujudkan mimpi ini. Saya akan terus berusaha menularkan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki, minimal menuliskannya di blog ini. Insya Allah.

















December 18, 2008 at 4:35 pm
Bisakah anda kontak saya? ke email atau ke HP?
salam andrew joudie
January 7, 2009 at 12:50 pm
wah keren pak..bisa bisnis kecil kemudian dengan bertambahnya umur akan tumbuh besar
Pak, saya dg teman2x pengen sekali dan punya cita2x usaha mandiri, sampai2 dr pihak departemen dengan menginkubasi biar cepet tumbuh semangat wirausaha. tetapi kami selalu terbatas pada rasa pesimis. gaman pak ada saran buat keluhan ini?
January 8, 2009 at 1:44 am
Usaha bisa untung bisa juga rugi. Kalau mau usaha tetapi sudah takut rugi duluan, mendingan tidak usah usaha. Banyak pengusaha yang berhasil saat ini, meraih kesuksesan setelah melewati berkali-kali rugi. Jadi jalani saja dan tetap berusaha.
August 18, 2009 at 4:03 am
saya jasman, juga sangat tertarik pada pembuatan bioetanol dari bahan-bahan selulosa, saat ini
saya sedang penelitian tentang hal itu menggu-
nakan kertas bekas, jerami, dan serbuk gergaji
sebagai bahan baku. metode yg saya gunakan un-
tuk hidrolisis selulosa adalah pengasaman, dan
fermentasi dgn bakteri dari rumen sapi, tapi
tampaknya kurang berhasil.hidrolisat menunjuk-
kan ada glukosa, tetapi setelah fermentasi dgn
saccharomyces, etanolnya tidak nampak, apa pen-
dapat Bapak ttg hal ini, trimakasih
January 11, 2009 at 3:17 am
Assalamunalaikum,ww. Alhamdulillah saya dah membangun pabrik kecil untuk Bio Ethanol, insya Allah ahir bulan ini bisa start,bagimana kalo kita kerjasama,kita bisa ketemu dulu untuk membicarakannya. terimakasih ditunggu jawabannya
January 11, 2009 at 3:21 am
saya lupa mencantumkan alamat pabriknya, lokasi pabrik di warung nangka ciawi Bogor
February 20, 2009 at 7:21 am
Perkenalkan
saya Tyo dari bogor.
saya, beberapa hari kemarin jalan-jalan ke beberapa tempat di Jawa dan melihat fenomena etanolisasi.
kaya’ euforia tapi bagus juga karena masa depan negeri ini bisa membaik.
Pak…
Project ni masih menyisakan banyak PR,
Btw,saya punya sedikit cara untuk cari modal
kalau bapak tertarik
saya senang bisa ngerjain bareng,tk
February 28, 2009 at 12:14 pm
salam kenal bg isroi kenalkan namaku febri gunawan, dari medan bisakah bapak membantu saya,saya butuh informasi Megenai perbedaan etanol.spritus,alkohol, bagaimana membedakannya secara fisik,dan bagaimanan cara menentukan kadaRnya, trimakasih buaat kesempatan dan jawabanya, saya doakan bapk sukses selalu dan tercapai segala mimpinya.AMIN
February 28, 2009 at 12:17 pm
tolong dibalas ke email saya ya pak tntang masalah perbedaan spritus,alkohol, etanol,metanol dan menentukan kadarnya, trimakasih, sukses bersama mu
March 13, 2009 at 4:11 am
kalau saya baca-baca, kok mirip dengan pencernaan di perut sapi atau kambing ya..??? apakah sesederhana itu?
March 13, 2009 at 7:38 am
Kalau sesederhana itu mungkin tidak. Konsepnya sederhana tetapi pada praktenya masih belum terwujud sampai saat ini. Doakan saja semoga ketemu.
March 24, 2009 at 9:00 am
saya bantuin promosi ya bro…
March 27, 2009 at 4:30 am
Halo Pak Isroi, Bapak punya literatur yang berkaitan dengan pembuatan bietanol dari selulosa?bisa di share gak Pak?Kedepan, saya ingin diskusi dengan Bapak, saya bekerja di salah satu Lembaga Pemerintah, yang juga sedang merekayasa industri ini, so diskusinya saya tunggu…
March 31, 2009 at 4:12 am
pak ku lagi bingung dg bio ethanol da cara efektif ekstraksi glukosa tanaman G?
tolong kasih tau ya….
March 31, 2009 at 4:13 am
pak da metode ekstraksi glukosa tanaman yang efektif g??
tolong kasih tau,makasih…
April 3, 2009 at 2:51 am
Mohon info alamat pembelian alpha dan gluko amilase kemasan 1 liter gak?
April 4, 2009 at 6:00 am
perbedaan etanol.spritus,alkohol
etanol C2H5OH itu merupakan salah satu jenis alkohol alkohol macemnya banyak sekali pokoknya yang mempunyai gugus -OH itu merupakan alkohol seperti methanol, buthanol, propanol dan lain-lain
sedangkan spritus itu biasanya etanol yang diberikan zat metil blue sebagai pewarna dan ditambahkan zat perusak berupa minyak tanah kadar etanolnya biasanya dibawah 90%
cara menentukan kadarnya secara kasar dapat menggunakan alat alkohol meter (murah kok harganya)
klo secara fisik spritus warna biru
untuk tahu betul itu bahan apa ya harus dicek sifat fisisnya TD, TL densitas danlain2
moga bermanfaat
CV endsany solo
perancang bioetanol atsiri IPAL
April 14, 2009 at 3:27 am
Perkenalkan Pak! Saya wisnu, saya membaca tulisan bapak sangat menarik sekli, sekiranya bapak berkenan, berharap sekali bapak dapat membantu saya dalam mempelajari bioethanol, ini dikarenakan saya ditugaskan untuk mempelajarinya oleh instansi saya. kebetulan saya juga pegawai baru, masih dalam masa percobaan, sekiranya bapak dapat membantu saya dalam bentuk tulisan2 bapak mengenai biethanol untuk dapat diemailkan ke email saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
April 14, 2009 at 6:35 am
Yang saya tahu, itu yang saya tulis di blog ini. Silahkah dinikmati. Semoga bermanfaat.
April 21, 2009 at 1:34 pm
Bgs bgt aq setuju..dan mendukung program dan pemikiran anda..suatu hari kelak penelitian dari hasil buah pikiran anda akan …banyak berguna utk orang2 yang membutuhkan.. TERUS…
April 23, 2009 at 9:20 am
assalamu’alaikum
salam kenal mas.saya salut dgn pemikiran anda.dan mdh2an impian mas isroi bisa terwujud ttg produksi bioetanol skala kecil.saya prnh jg berangan2 andai dlm tiap lingkungan(RW/kelurahan) punya Depo Bioetanol sendiri dr bahan sendiri (misal sampah organik di daerah itu).saya tertarik jg untuk ikut dlm “proyek” mas isroi.mngkn dlm hal pendanaan,walaupun jg kecil2an.karena saya jg ingin bikin proyek sndiri (sprti anda) tp modalnya lebih cekak (ilmu,tempat dan alat) msh blm sbanyak anda.kalo mas isroi berkenan,bs bls ke email saya.terimakasih.
Wassalamu’alaikum
April 30, 2009 at 2:13 am
lam knal mas…..
saya mw nanya masalah hidrolisis jerami padi dengan menggunakan asam itu prosedur kerjanya gimana? trus kondisi operasi nya brp?
tolong mas ya, ini menyangkut penelitian yang sedang saya lakukan sekarang.
tks b4
April 30, 2009 at 5:47 am
Ada jurnalnya dan metodenya cukup jelas disebutkan. Coba cari dengan google dengan kata kunci: bioethanol ethanol rice straw hydrolysis taherzadeh karimi acid. Seingat saya, jurnal bisa didownload gratis. Semoga membantu.
April 30, 2009 at 2:16 am
mas,
metode hidrolisis jerami padi itu gimana ya?
tks
May 1, 2009 at 1:35 am
makasih y mas…
atas bantuan nya.
oya mas, kalau bahan baku jerami yang kita gunakan sebanyak 1 kg, kira-kira untuk pretreatmentnya rasio jerami dan air kapurnya berapa mas ya?
oia, 1 lagi mas, pada hidrolisis itu tekanan berpengaruh tidak mas terhadap hasil hidrolisis?
tks b4.
May 1, 2009 at 8:47 am
Untuk pertanyaan pertama, sulit dijawab, karena harus empirik.
Hidrolisis dengan asam, faktor-faktor yang berpengaruh: konsentrasi asam, suhu, dan tekanan. Suhu dan tekanan saling berkaitan, ada teorinya di kuliah fisika.
May 1, 2009 at 10:05 am
Assalamu’alaikum wr wb.
Saya senang sekali menemui web anda ini, dan saya cukup bangga dengan anda yang sangat aktif dalam berkarya, terutama keinginan anda untuk mewujudkan produksi bioethanol di tanah air. Saya juga sama dengan anda, waktu kecil bercita-cita untuk menemukan alternatif terbaik untuk mengatasi masalah limbah/sampah. Sekarang saya berada di Jepang dan saya mempunyai group penelitian sendiri. Alhamdulillah saya punya beberapa kerjasama dengan beberapa instansi dan universitas di tanah air dalam penelitian pemanfaatan limbah ini untuk produksi bioethanol, biogas dan biodegradable plastic. Penelitian saya adalah tentang enzyme cellulase, lipase, biopolymer (cellulose, polyester). Jika anda tertarik kita bisa berkenalan lebih jauh nantinya.
May 7, 2009 at 6:29 am
***referensi lama, tidak ada salahnya di baca***
Pohon Rekayasa Genetika, Ciptakan Kemitraan Berbahaya dalam Perubahan Iklim
10 Dec 2007
Koalisi Hutan Global menyelenggarakan acara side event pada hari Rabu, 5 Desember 2007, saat berlangsungya Konferensi Perubahan Iklim PBB di Nusa Dua, Bali, dengan tajuk “Strategi yang berlawanan: mempromosikan bahan bakar agro dan mengurangi penggundulan hutan”. Presentasi ini mengangkat tema besar tentang kontradiksi antara pengembangan dan produksi bahan bakar agro (agrofuels) dan pengurangan tingkat penggundulan hutan dan perusakan hutan di negara-negara berkembang yang dikenal dengan konsep REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation), juga pentingnya menjaga hak-hal masyarakat lokal.
Pembicara pertama merupakan salah seorang aktivis lingkungan yang juga peneliti dari Paraguay yang mempresentasikan bagaimana usaha untuk promosi serta pengembangan bahan bakar agro yang dipercaya dapat mengurangi emisi karbon dan memiliki dampak yang sangat kuat dan besar terhadap perusakan dan penggundulan hutan, karena terjadinya Euphoria bahan bakar agro yang dapat memberikan pemasukan yang besar sehingga lahan hutan berubah menjadi lahan untuk kebutuhan bahan bakar agro.
Kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari salah seorang peneliti dari Koalisi Hutan Global yang mengangkat persoalan bagaimana generasi kedua dari bahan bakar biologis (biofuels) akan merusak hutan alam dan juga malah memperburuk pemanasan global. Biofuel generasi kedua yang saat ini dipromosikan adalah ethanol yang terbuat dari selulosa. Pertanyaan utamanya adalah apakah etanol selulosa ini merupakan sebuah solusi atau masalah besar lainnya?
Konferensi ini dibuka dengan paparan mengenai bagaimana generasi kedua dari biofuel ini, yaitu biofuel yang berasal dari sumber-sumber selulosa seperti pohon dsb dilahirkan. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran dan perhatian akan terjadinya kompetisi antara pemenuhan kebutuhan makanan dan bahan bakar yang terjadi dalam bentuk perebutan tata guna lahan. Hal ini diperkuat dengan dokumentasi yang sangat baik dari perusakan hutan-hutan tropis yang sangat parah seperti hutan Amazon, untuk penanaman kedelai, sebagai reaksi langsung dari meningkatnya kebutuhan akan biofuel. Maka berkembanglah wacana tentang generasi kedua biofuel. Global Forest Coalition (GFC) berargumen bahwa pemanfaatan selulosa terutama yang berasal dari pohon akan memperbesar masalah yang ada, bahkan membuat persoalan baru.
Menurut GFC, industri bioteknologi melihat ethanol dari bahan selulosa ini sebagai kesempatan untuk mempromosikan penemuan mereka berupa pohon ‘frankentree’, yaitu pohon-pohon yang dikembangkan melalui rekayasa genetik, sebagai jawaban atas nama membantu menyelesaikan masalah pemanasan global. GFC berargumen bahwa industri bioteknologi ini memperkuat dirinya bersama perusahaan agrobisnis dan perusahaan minyak untuk menciptakan kemitraan yang berbahaya.
Menurut GFC, agrofuels ini merupakan hegemoni yang diciptakan oleh Amerika Serikat, dengan argumen-argumen sebagai berikut :
*
Departemen energi Amerika Serikat telah berinvestasi secara besar-besaran di dalam apa yang disebut sebagai agrofuel ’generasi kedua’ termasuk ethanol selulosa yang berasal dari rekayasa genetis terhadap pepohonan. Salah satu fasilitas riset yang mendukung adalah Oak Ridge National Laboratory, tempat dikembangkannya bom atom.
*
Center Intelligent Agency (CIA) terlibat dalam pengembangan ini.
*
Biofuels menjadi salah satu cara yang paling baru yang digunakan oleh Amerika Serikat untuk tetap mengontrol serta mengelola suplai energi dunia dan juga untuk tetap mempromosikan agenda global mereka tentang dominasi korporasi.
Beberapa fakta yang dideskripsikan dengan baik oleh GFC adalah sebagai berikut :
*
Salah satu dari daerah hutan terluas di AS bagian tenggara, ditutupi oleh perkebunan pinus. Daerah ini menjadi salah satu produsen terbesar pulp untuk kertas.
*
Saat ini ada aktifitas untuk mengubah perkebunan pinus ini menjadi sumber biofuels untuk ethanol selulosa. Negara bagian Georgia bahkan ingin menjadi ’Saudi Arabia’ dari biofuels, dengan menggunakan perkebunan pinus mereka menjadi sumber biofuels.
*
Transformasi perkebunan pinus dari sumber pulp menjadi sumber biofuels akan sangat mengurangi jumlah pulp yang tersedia untuk kebutuhan kertas.
*
Pemenuhan untuk kebutuhan pulp ini akan mencari sumber yang lain. Permintaan akan tetap, sehingga pemenuhannya akan dipenuhi dari AS atau perusahaan-perusahaan akan mendapatkannya dari daerah lain.
Dari segala akibat dan ancaman agrofuels terhadap hutan dan kelompok tradisional yang hidup dari hasil hutan, menurut GFC, ethanol selulosa adalah ancaman terbesar, karena timbulnya permintaan yang sangat besar terhadap kayu yang akan menimbulkan perubahan orientasi pemanfaatan kayu dari pasar kertas menjadi pasar agrofuels.
Timbulnya kebutuhan yang besar terhadap kayu ini akan mengakibatkan beberapa hal seperti: penebangan atau penebangan liar terhadap hutan-hutan asli, dan juga ekspansi perkebunan pohon-pohon monokultur. Di mana? Di hutan-hutan alam, ekosistem yang lain (seperti padang rumput), di kawasan yang dihuni oleh kelompok-kelompok masyarakat lokal.
Organisme Berbahaya
Salah satu hal yang juga diperhatikan oleh GFC adalah adanya penciptaan sebuah organisme, dimana ethanol selulosa ini memerlukan penggunaan modifikasi genetik serta penggunaan organisme baru. Yang kita tidak tahu adalah akibat yang akan terjadi pada lingkungan jika ketika organisme ini secara tidak sengaja terlepaskan. Contohnya, saat ini ada perusahaan-perusahaan yang sedang mengembangkan enzim untuk mencerna kayu untuk ethanol selulosa. Perusahaan-perusahaan ini juga sedang mengembangkan pohon dengan enzim melalui rekayasa gentik yang dapat mencerna dirinya sendiri. Kita bisa sama-sama membayangkan betapa bahayanya ketika enzim ini dilepaskan di hutan.
Hal berikutnya yang menjadi perhatian adalah adanya invasi ’makhluk asing’ pada hutan-hutan. Siapakah ’makhluk asing’ tersebut? Mereka adalah pohon-pohon yang telah direkayasa secara genetis. Contoh yang paling nyata adalah rekayasa genetik terhadap Eucalyptus agar menjadi lebih tahan terhadap suhu dingin. Yang akan terjadi adalah kemungkinan invasi ’makhluk asing’ berupa pohon dengan rekayasa genetik ini ke wilayah-wilayah lain, yang akan mengancam ekosistem hutan yang ada. ArborGEN sebuah perusahaan rekayasa genetik dari AS telah menerima ijin dari USDA (badan pembangunan AS) untuk mencoba hasil test Eucalyptus mereka dan mengembangkan biji Eucalyptus tersebut, dan perusahaan ini sedang meminta ijin yang sama kepada pemerintah Brazil. Persoalannya adalah akan terjadi kontaminasi terhadap hutan berupa pohon-pohon dengan rekayasa genetik.
Memperburuk Pemanasan Global
Menurut laporan yang dibuat oleh World Resources Institute dan juga US EPA (Badan Perlindungan Lingkungan AS), hutan tropis dapat menyimpan karbon dengan jumlah empat kali lebih banyak daripada perkebunan. Maka perubahan dari hutan asli kepada perkebunan akan memperburuk pemanasan global. Alasannya adalah perkebunan dengan pohon yang telah direkayasa secara genetis akan mengurangi lignin sehingga menaikkan selulosa pohon, mempercepat pertumbuhan, tahan terhadap dingin (Eucalyptus), tahan terhadap serangga, menghasilkan produk lebih banyak (perkebunan sawit).
Persoalannya adalah pohon-pohon tersebut lebih cepat melepaskan CO2 dibandingkan pohon-pohon yang asli. Studi dan pembuatan model yang dilakukan oleh Universitas DUKE pada tahun 2004 menghasilkan temuan bahwa hutan di North Carolina, Amerika bagian tenggara dapat menyebarkan benihnya sampai ke Canada bagian timur, lebih dari 1200 kilometer. Hal ini menggambarkan potensi ancaman pohon-pohon dengan rekayasa genetik terhadap hutan asli. Kontaminasi hutan asli oleh pohon-pohon yang direkayasa secara genetis akan merusak dan mengganggu ekosistem hutan dan akan meningkatkan tingkat kematian hutan asli, kehilangan keanekaragaman hayati, dan bahkan memperburuk pemanasan global.
Salah satu kasusnya adalah kebakaran hutan yang terjadi di California baru-baru ini, dimana perkebunan pinus di California terbakar hebat dan ada usaha untuk menggantinya dengan perkebunan Eucalyptus yang telah direkayasan secara genetis. Sementara pohon eucalyptus merupakan pohon yang sangat mudah terbakar. Efek lainnya adalah cadangan air tanah yang akan berkurang, karena perkebunan Eucalyptus terbukti telah mengkonsumsi air permukaan serta air tanah yang menyebabkan situasi kekeringan.
Maka, ketika karbon yang dilepaskan melalui deforestasi serta kebakaran hutan dimasukkan dalam faktor penghitungan, biofuels yang berbasis kayu bukan lagi menjadi solusi bagi perubahan iklim, tetapi malah menjadi masalah.
Salah satu efek lain yang akan timbul adalah pengaruh terhadap masyarakat lokal / tradisional. Di mana masyarakat dengan pengetahuan lokal mereka untuk bertahan hidup harus menyesuaikan diri dengan hutan yang ’baru’. Juga studi terakhir menemukan bahwa pohon Eucalyptus merupakan rumah yang baik bagi jamur patogen yang cukup mematikan, yaitu Cryptococcus Gattii.
Belajar dari pengalaman tersebut di atas, maka kita perlu terus menjadi kritis terhadap kebijakan-kebijakan energi yang dikembangkan saat ini. Di satu sisi, perubahan iklim memang menjadi isu dan persoalan yang penting, juga persoalan kebutuhan energi. Tetapi juga harus dikritisi selalu, bahwa pemenuhan kebijakan energi ini harus dapat menjaga ekosistem yang ada dan juga membawa manfaat pada masyarakat lokal dan tradisional, bukan malah mengancam.
Dalam konteks ini, dibutuhkan sebuah penguatan-penguatan terutama di bidang riset dan teknologi di tingkat lokal, yang dilakukan oleh peneliti-peneliti lokal dengan melibatkan masyarakat lokal dan tradisional, sehingga ilmu tentang perubahan iklim dan energi itu sendiri akan bermanfaat buat masyarakat lokal dan ekosistem.
July 11, 2009 at 3:45 am
wacana diatas menggambarkan ketakutan amerika dalam menanggapi perkembabngan teknologi di negara yang kaya akan sumber daya alam.. wacana seperti ini juga pernah muncul ketika pertanian kapas amerika terancam dengan majunya tekstil indonesia dan berkembangnya pertanian kapas indonesia menuju kemandirian. tapi kemudian dihembuskannya isu kapas transgenik membuat pertanian kapas hancur berikut industri tekstil indonesia karena tergantung terhadap impor dari amerika. sekarang hal seperti ini akankah terulang lagi,,, CUKUP…
Jangan pernah berhenti untuk mencoba n meneliti sesuatu yang baru. jangan pernah patah semangat dengan perlengkapan yang terbatas, bergabunglah dengan peneliti diseluruh dunia.. untuk menjaga dan mengelola kekayaan alam negara kita…
July 14, 2009 at 5:55 am
Dear mas isroi,
Saya da bikin bioethanol, tolong saya diberitahu cara membuat pupuk cair dari limbah bioethanol berbahan molases. Jumlah limbahnya 10 x dibanding hasil ethanolnya.Kalo dibuang begitu saja rasanya kok eman pak.Matur suwun atas bimbingannya.
Edie Tanudjaja.
July 16, 2009 at 4:34 am
lam kenal ms isroi, sungguh ct2 yang luar bikasa. sy ingin sekali membantu, tp dr dana, peralatn, t4,sampai skrg blm bs membantu. tp untuk tenaga insyaallah sy bs. sy jg ingin mengembangkan bioetanol dari limbah pertanian karena pemanfaatannya blm optimal. klu blh tau enzim yang digunakan apa, dan harganya brp?
August 10, 2009 at 12:11 pm
saya sangat senang sekali membaca artikel anda, sallam kenal mas saya kardi di tangerang,setelah membaca beberapa artikel dari berbagai sumber termasuk artikel yang anda tulis di website ini, saya mencoba memperaktekan pembuatan bioethanol dengan menggunakan bahan baku dari buah pisang dengan masa fermentasi selama 7-11 hari dengan volume air 20 liter dan bahan baku pisang sebanyak 8 kg, dan ethanol yang di hasilkan hanya 2,8 liter, kok hasilnya kira2 hanya 10% saja, mengapa demikian? tolong beri pencerahannya ke pada saya lewat email, sebelumnya saya ucapkan terimakasih…wassallam
August 12, 2009 at 6:53 am
Selamat datang di blog saya, semoga bermanfaat.
Kalau melihat informasi dari P Kardi 8 kg pisang jadi 2.8 liter
etanol. Pertanyaan saya berapa kadar etanolnya?
Kalau untuk molases konversinya 5 kg dapat 1 kg etanol kering (99%).
Kemudian proses yg dilakukan seperti apa? Apakah ada proses hidrolisis
dulu atau langsung fermentasi? Fermentasi langsung hanya mengubah gula
dlm pisang saja, sedangkan patinya tidak terfermentasi.
Semoga bermanfaat.
Salam.
September 25, 2009 at 10:45 am
Pada prinsipnya kami tertarik untuk Ethanol Plant Skala dari dengan bahan baku selulosa. Untuk kegiatan anda saya bisa bantu peralatan distilasi kapasitas 10 s/d 20 ltr / jam . Untuk itu silahkan kontak kami
October 4, 2009 at 1:20 pm
maz saya alfian.,, baru ja lulus sma…
saya dah mencoba pembuatan bioetanol tp bingung nich cara pemasarannya, mohon saranya ya…
October 4, 2009 at 10:46 pm
selamat berinovasi aja saya tunggu hasilnya, saya pernah denger n baca di daerah karanganyar solo sudah ada yang berhasil membuat bioetanol dari limbah rumah tangga n pertanian, saya coba cari referensinya lagi buat bantu para pembaca blog mas isroi, ok coy
October 15, 2009 at 7:30 am
pak,saya mau tanya untuk proses riset saya..
pembuatan bioethanol dari alang-alang itu, bagian mananya ya yang diambil???
daunnya??
bunganya??
batang bunga??
batang daun??
atau akarnya ya pak…
tolong sekali saya mohon bantuannya
bapak bisa kirim jawabannya via email saya RimmaApriana@yahoo.com.
October 15, 2009 at 11:48 am
Yang paling mudah dibuat ya…di bagian akarnya. Akarnya kan manis tuh…tinggal ekstrak dan langsung di fermentasi. jadi deh..etanol.
October 28, 2009 at 3:19 pm
pak isroi…tapi kan bukannya bagian yang banyak lignin ada di daun ya, bukan di akar..
saya takutnya kalo di bagian akar banyak sekali kandungan airnya, sehingga pengeringan nya sulit pak…
Lalu waktu itu bapak bilang akarnya diekstrak…lho??bukannya alang2 tersebut yang saya bingungkan bagiannya kan dihidrolisis,,lalu kenapa bapak bilang diekstrak..itu bukannya beda jauh ya prosesnya??
Trus juga pak,,untuk tahap akhir kan didistilasi ya pak…Saya juga bingung,,ada yang mengatakan lebih baik untuk menghasilkan yield yang tinggi, lebih baik kita melakukan evaporasi..
Karena distilasi katanya terlalu rumit dan yield nya ?
Kenapa pembuatan bioethanol tidak dievap saja daripada didistilasi??
Untuk yang terakhir pak,,saya baca litelatur bahwa alang-alang jenis ’switcgrass’ yang bisa dijadikan bioethanol..lalu saya meneliti alang-alang (Imperata Cylindica) yang berada di sekitar palembang-sumsel,,apa itu bisa pak??
maaf ya pak banyak sekali pertanyaannya..
Tolong mohon penjelasannya ya pak..
dan ada tidak referensi literatur dari bapak tentang riset saya ini..
August 18, 2009 at 1:11 pm
Berapa kandungan gula yang diperoleh? Kalau hasil gula cukup tinggi, tetapi fermentasi tidak optimal mungkin ada senyawa beracun bagi yeast. Perlu tahapan detoksifikasi. Tetapi kalau gulanya masih rendah, berarti hidrolisisnya yang belum optimal. Keep trying.