Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Tanah menemukan bahwa kandungan bahan organik di sebagian besar sawah di P Jawa menurun hingga 1% saja. Padahal kandungan bahan organik yang ideal adalah sekitar 5%. Kondisi miskin bahan organik ini menimbulkan banyak masalah, antara lain: efisiensi pupuk yang rendah, aktivitas mikroba tanah yang rendah, dan struktur tanah yang kurang baik. Akibatnya produksi padi cenderung turun dan kebutuhan pupuk terus meningkat. Solusi mengatasi permasalah ini adalah dengan menambahkan bahan organik/kompos ke lahan-lahan sawah. Kompos harus ditambahkan dalam jumlah yang cukup hingga kandungan bahan organik kembali ideal seperti semula.
Link VCD Pengomosan Jerami
Pengomposan Jerami Bagian 1
Dari Tanah Kembali ke Tanah
Padi atau tanaman menyerap unsur hara dari dalam tanah. Dengan bantuan energi dari sinar matahari, hara dari dalam tanah ditambah dengan CO2 dari udara ini diubah menjadi senyawa komplek untuk membentuk batang, daun, dan bulir-bulir padi/beras. Padi/beras akan dipanen dan dibawa ke tempat lain, sedangkan jerami sisa-sisa panen umumnya dibakar.
Proses ini berlangsung lama. Unsur hara dan bahan organik tanah semakin lama akan semakin habis. Selama ini unsur hara lebih banyak dipenuhi dengan menambahkan pupuk-pupuk kimia anorganik. Bahan-bahan organik yang ada di dalam tanah tidak mendapat perhatian dan kandungannya di dalam tanah semakin menipis.

Gambar 1. Jerami dari sisa panen padi
Jerami yang dihasilkan dari sisa-sisa panen sebaiknya jangan dibakar, tetapi diolah menjadi kompos dan dikembalikan lagi ke tanah. Kompos jerami ini secara bertahap dapat menambah kandungan bahan organik tanah, dan lambat laun akan mengembalikan kesuburan tanah.


Gambar 2. Seresah dan sisa-sisa daun dapat juga dibuat kompos
Kompos selain dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lain. Rumput-rumputan, sisa-sisa daun dan batang pisang, atan daun-daun tanaman dapat juga dibuat kompos. Pada prinsipnya semua limbah organik dapat dijadikan kompos.
Batang kayu, bamboo, ranting-ranting pohon, atau tulang juga termasuk bahan organik tetapi sebaiknya tidak ikut dikomposkan dengan jerami. Limbah-limbah ini termasuk limbah organik keras. Meskinpun dapat juga dibuat kompos, namun bahan-bahan ini memerlukan waktu yang lama untuk terdekomposisi.
Waktu Pengomposan
Waktu pengomposan sebaiknya segera setelah panen, yaitu waktu pada saat penyiapan bibit padi hingga sebelum penanaman bibit. Pada saat penyiapan bibit, kompos jerami juga disiapkan. Setelah kompos matang dalam waktu kira-kira satu bulan, kompos bisa segera disebarkan di petak sawah bersamaan dengan pengolahan tanah.
Keunggulan Cara Ini
Mudah. Cara pembuatannya sangat mudah sekali. Semua bahan bisa diperoleh di tempat. Hanya PROMI yang perlu dipesan dulu. Cara ini juga tanpa pencacahan, jadi tidak perlu mesin pencacah atau parang.
Murah. Biaya pembuatannya sangat murah. Bahan-bahan dan alat pendukung lainnya pun bisa menggunakan bahan lain yang lebih murah, jika ada.
Manfaat. Kompos ini tiak diragukan lagi memiliki banyak manfaat. Insya Allah.
Lokasi Pengomposan
Lokasi pengomposan dilakukan di petak sawah yang akan diaplikasi atau dipetak dimana jerami tersebut dipanen. Lokasi sebaiknya dipilih dekat dengan sumber air, karena pembuatan kompos membutuhkan banyak air. Lokasi juga dipikirkan untuk kemudahan saat aplikasi. Jika petak sawah cukup luas, sebaiknya dibuat di beberapa tempat yang terpisah.
Peralatan yang Dibutuhkan
Peralatan yang dibutukan antara lain:
1. Sabit/parang
2. Cetakan yang dibuat dari bambo. Cetakan ini dibuat seperti pagar yang terdiri dari 4 bagian. Dua bagian berukuran 2 x 1 m dan dua bagian yang lain berukuran 1 x 1 m.
3. Ember/bak untuk tempat air.
4. Air yang cukup untuk membasahi jerami.
5. Aktivator pengomposan (Acticomp atau Promi).
6. Ember untuk menyiramkan aktivator.
7. Tali.
8. Plastik penutup. Plastik ini bisa dibuat dari plastik mulsa berwarna hitam (ukuran leber 1 m) yang dibelah sehingga lebernya menjadi 2 m.
Tahapan Pembuatan Kompos Jerami
1. Siapkan bak dan air. Masukkan air ke dalam bak. Kemudian larutkan aktivator sesuai dosis yang diperlukan ke dalam bak air. Aduk hingga aktivator tercampur merata.

Gambar 3. Menyiapkan air untuk pengomposan jerami.

Gambar 4. Aktivator dimasukkan ke dalam bak air sesuai dosis yang diperlukan.

Gambar 5. Aduk aktivator hingga tercampur merata.
2. Siapkan cetakan dari bambo. Pasang cetakan tersebut. Sesuaikan ukuran cetakan dengan jerami dan seresah yang tersedia. Apabila jerami cukup banyak cetakan dapat berukuran 2 x 1 x 1 m. Namun bila jerami sedikit cetakan bisa dibuat lebih kecil dari ukuran tersebut.

Gambar 6. Siapakan cetakan kompos yang dibuat dari bambu.
3. Masukkan satu lapis jermai ke dalam cetakan. Jika tersedia dapat dimasukkan pula kotoran ternak. Jerami atau seresah yang berukuran besar dipotong-potong terlebih dahulu dengan parang.

Gambar 7. Masukkan jerami dan bahan-bahan lain lapis demi lapis ke dalam cetakan kompos.
4. Siramkan aktivator yang telah disiapkan merata dipermukaan jerami.

Gambar 8. Setiap lapis tumpukan disiram dengan aktivator secukupnya.
5. Injak-injak agar jerami padat.

Gambar 9. Setiap lampis tumpukan jerami diinjak-injak agar padat.
6. Tambahkan lagi satu lapis jerami/sereah.
7. Siramkan kembali aktivator ke tumpukan jerami tersebut dan jangan lupa injak-injak agar tumpukan menjadi padat.
8. Ulangi langkah-langkah diatas hingga cetakan penuh atau seluruh jerami/seresah telah dimasukkan ke dalam cetakan.
9. Setelah cetakan penuh, buka tali pengikatnya dan lepaskan cetakannya.

Gambar 10. Tumupkan jerami yang siap ditutup dengan plastic.
10. Tutup tumpukan jerami tersebut dengan plastic yang telah disiapkan.

Gambar 11. Tumpukan jerami ditutup dengan plastic.
11. Ikat plastic dengan tali plastic agar tidak mudah lepas.
12. Kalau perlu bagian atas jerami diberi batu atau pemberat lain agar plastic tidak tebuka karena angin.
13. Lakukan pengamatan suhu, penyusutan volume, dan perubahan warna tumpukan jerami.
14. Inkubasi/fermentasi tumpukan jerami tersebut hingga kurang lebih satu bulan.

Gambar 12. Tumpukan diinkubasi selama satu bulan.
Pengamatan Selama Fermentasi
Selama masa fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Selama waktu fermentasi ini akan terjadi perubahan fisik dan kimiawi jerami. Proses pelapukan ini dapat diamati secara visual antara lain dengan peningkatan suhu, penurunan volume tumpukan jerami, dan perubahan warna.
Suhu tumpukan jerami akan meningkat dengan cepat sehari/dua hari setelah inkubasi. Suhu akan terus meningkat selama beberapa minggu dan suhunya dapat mencapai 65-70 oC. Pada saat suhu meningkat, mikroba akan dengan giat melakukan penguraian/dekomposisi jerami. Akibat penguraian jerami, volume tumpukan jerami akan menyusut. Penyusutan ini dapat mencapai 50% dari volume semula. Sejalan dengan itu wana jerami juga akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman.

Gambar 13. Tumpukan jerami akan mengalami penyusutan selama masa fermentasi.
Mengatasi Masalah yang Terjadi Selama Fermentasi
| Masalah Pengomposan Jerami yang Paling Sering Ditemui |
| Saya ingin menekankan masalah pengomposan ini, karena hampir selalu ditemui pada teman-teman yang baru pertama kali mengomposkan jerami, yaitu: KURANG AIR.Kompos jerami biasanya kurang air pada bagian tengahnya.Oleh karena itu sangat saya sarankan untuk selalu memeriksa kompos pada minggu pertama.Periksa sampai bagian dalam, kalau kering. Tambahkan air secukupnya, kemudian kompos ditutup kembali. |
Jika setelah dua atau tiga hari tidak terjadi peningkatan suhu, atau tidak terjadi penyusutan volume selama proses fermentasi kemungkinan proses penguraian mengalami hambatan. Proses penguraian berjalan lambat atau bahkan tidak berlangsung sama sekali. Jika hal ini terjadi maka diperlukan langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan ini.
Buka plastic penutup. bongkar dan amati tumpukan jerami tersebut. Apakah tumpukan tersebut kering atau ada bagian-bagian yang kering? Apakah tumpukan jerami tersebut terlalu basah? Apakah muncul bau yang kurang sedap? Apakah tumpukan jerami tersebut dingin atau panas?
Apabila tumpukan jerami kering, tambahkan air secukupnya. Kalo perlu lakukan pembalikan. Apabila jerami terlalu basah dan muncul bau tidak sedap, lakukan pembalikan dan jika perlu tambahkan bilah-bilah bambo yang diberi lubang untuk menambah aerasi.


Gambar 14. Jerami yang kering dan tidak merata kandungan airnya.

Gambar 15. Tumpukan jerami dibalik dan disiram air agar proses penguraian dapat berjalan seperti yang diinginkan.
Panen dan Aplikasi Kompos Jerami


Gambar 16. Kompos jerami yang sudah jadi: warna coklat kehitaman, lunak dan volumenya menyusut.
Kompos yang telah cukup matang ditandai dengan adanya perubahan fisik jerami. Perubahan itu antara lain:
- Jerami berwarna coklat kehitam-hitaman,
- lunak dan mudah dihancurkan,
- suhu tumpukan sudah mendekati suhu awal pengomposan,
- tidak berbau menyengat, dan
- volume menyusut hingga setengahnya.
Kompos jerami yang sudah memiliki ciri-ciri demikian berarti sudah cukup matang dan siap diaplikasikan ke sawah. Kompos jerami diaplikasikan di tempat di mana jerami tersebut diambil.

Gambar 17. Padi yang dipupuk dengan kompos jerami tumbuh lebih subur.
[isroi]
[hubungi aku]

















March 12, 2008 at 2:11 am
Salam kenal Mas Is, saya tertarik dengan pengomposan limbah jerami. Dimana saya bisa dapatkan PROMI activator dan berapa harganya. Saya tinggal di Bandung.
terimakasih
Wassalam
April 21, 2008 at 8:25 am
mas mau nanya ni…. tau ga apa-apa saja kandungan yg ada pd jerami? tlg kirim ke wulandari_chem@yahoo.com…. trims yaa
May 4, 2008 at 3:21 am
terimakish banget atas keterangan yang sejak dulu aku cari. sekarang ternyata udah ketemu. di desa saya sangat banyak sekali jerami, mungkin karena mata pencaharian di desaku adalah petani padi. maka terkadang jerami itu di bakar atau diterlantarkan, tapi ngomong-2, lebih bermanfaat mana antara dijadikan jerami atau dimanfaatkan untuk makanan ternak ? mohon dijawab masya ? karena selain dibakar, biasanya untuk makanan ternak, itu yang terjadi di desa kami.
May 4, 2008 at 5:38 pm
Selamat datang di web saya. Semoga bermanfaat.
Jerami untuk kompos atau untuk pakan ternak. Pilih yang mana. Tergantung. Tetapi setahu saya tidak semua petani punya ternak. Jumlah jerami yang digunakan untuk pakan lebih sedikit daripada jerami yang dibakar. Saya lihat sendiri di daerah Delanggu, Klaten dan Palur, Sukoharjo.
Kalau kondisi demikian, jerami bisa digunakan untuk pakan ternak dan sisanya dijadikan pupuk kompos. Jangan dibakar. Selain itu pupuk kandang dari kotoran ternak bisa juga digunakan untuk tanaman padi.
Jika misalnya jumlah ternak banyak sekali sehingga semua jerami dijadikan pakan ternak. Bisa saja, kotoran ternak bisa dijadikan pupuk organik untuk padi. Tetapi perlu juga diperhatikan masalah biaya operasionalnya, mana yang lebih menguntungkan petani, apakah ternak atau padi. Dan lain-lain.
Jadi pilihannya bisa untuk kompos atau untuk pakan ternak.
Silahkan dipilih sendiri.
May 12, 2008 at 4:50 pm
[...] organik jika memungkinkan. Karena kedua pupuk ini sejauh ini lebih ramah lingkungan. Baca juga: Kompos Jerami | VCD Pengomposan Jerami | PROMI Artikel ini merupakan salah satu artikel paling sering diakses. [...]
May 15, 2008 at 3:04 pm
assalamualaikum ww,terim kasih atas saran pak isroi, cuma saya pengen tahu bagaimana cara menghidrolisis jerami yang mudah dan murah?mungkin saya bisa coba selangkah demi selangkah dalam proses pembuatan bioetanol,yang bisa saya praktekkan pada anak didik saya di daerah transmigrasi, karena saya seorang guru smk pertanian
June 5, 2008 at 4:59 am
mas kalo cara membudiayakan jamur jerami padi gimanya
terus prospek ke depanya bagus ato g?
terimakasih
June 25, 2008 at 7:15 pm
aslkm.pak boleh tahu berapa harga Promi & Promo? Diman saya bisa dapatkan? terimakasih
June 29, 2008 at 1:11 am
terimakasih atas informasinya..
sangat bermanfaat sekali. semoga dibalas oleh Allah dengan keberkahan dan balasan yang lebih baik..
July 8, 2008 at 3:16 pm
Seandinya seluruh petani kita punya pengetahuan seperti bapak, saya yakin kita tidak akan kebingungan menghadapi kelangkaan pupuk (terutama pupuk subsidi), dan kondisi pertanian di indonesia semakin lama-akan semakin baik.
Info bapak sangat bermanfaat,
Thanks
July 16, 2008 at 3:32 am
ass. ww. salam kenal……
mohon informasi dimana saya bisa mendapatkan promi di daerah Klaten Jawa Tengah. terima kasih.
wsslkm. ww.
July 16, 2008 at 3:34 am
ass. ww. salam kenal
mohonn informasi dimana sayya bisa mendapatkan promi di daerah Klaten Jawa Tengah
terima kasih.
wslkm. ww.
July 28, 2008 at 7:49 am
dimana kami bisa mendapatkan promi. saya beralamat di KAb. serang – BAnten, Kec. Ciruas.
August 4, 2008 at 7:26 pm
Salam kenal Pak Is, Mohon info dimana saya bisa dapatkan PROMI activator dan berapa harganya. Saya tinggal di jakarta barat.
Terimakasih
Wassalam
August 8, 2008 at 12:03 pm
Selamat anda termasuk pemerhati lingkungan dan memanfaatkan limbah sebagai bahan pakan ternak dan sumber kompos, pengalaman ilmu ini berlaku biasanya pada saat musim kemarau, bila musim hujan petani kembali ke rumput hijau bagaimana cara agar peternak/petani dapat memanfaatkan jerami sebagai pakn untuk sepanjang tahun tanpa harus ada peternak ngarit (bhs jawa) biar peternak Indonesia lebih merdeka terimakasih
September 8, 2008 at 8:07 am
Apakah saya boleh mengcopy tulisan bapak untuk dibuat sebagai brosur??
September 8, 2008 at 8:56 am
[...] banyak terdapat bahan organik yang cukup melimpah, yaitu dari sisa jerami. Jerami dapat dibuat kompos dengan cara yang mudah, murah, dan cepat. Dalam satu ha kurang lebih dapat dihasilkan jerami sebanyak 15 ton atau kira-kira 3 kali hasil [...]
October 13, 2008 at 7:27 am
web site ini sangat baik bagi muda mudi seperti saya ini sehingga dpt mengerjakan tugas2 mengenai kompos dengan mudah . Tingkatkan!
November 9, 2008 at 7:56 am
mo nanya mas, kalo tebasan semak bisa di bwt kompos? di tmptku banyak.. maturnuwun atas perhatiannya..
November 10, 2008 at 12:49 am
Selamat datang di blog saya.
Sekali saya tegaskan di sini bahwa pada prinsipnya semua bahan organik bisa dikomposkan. Termasuk semak-semak, rumput, daun-daun, dan lain-lain. Memang ada yang dapat dikomposkan dengan mudah dan cepat, ada yang perlu waktu, dan ada yang sulit sekali. Yang perlu waktu seperti batang kayu yang keras, bambu, dan teman-temannya. Yang sulit seperti tulang, tanduk, rambut, dll.
Semoga bermanfaat.
isroi
November 14, 2008 at 4:52 am
Ass. mas bisa kasih info gk?
mana hasil produksi pasi yang lebih tinggi, menggunakan kompos jerami atau jerami bakar??
tolong ya mas, soalnya ini penting untuk tugas metodologi penelitian sy.
sy sangat menharapkan bantuannya.
terima kasih.
November 15, 2008 at 9:54 am
Kompos jerami memiliki kandunga hara yang lengkap.
Sedangkan jerami bakar hanya hara K saja,
Jadi lebih baik pake kompos jerami.
isroi
November 25, 2008 at 8:05 am
[...] bagaimana dengan msyarakat kecil yang cuma punya sedikit lahan?? tambah 7 keliling donk pusingnya… sebenernya mahalnya harga pupuk yang di karenakan kelangkaan adanya pupuk k-urea ini bukanlah masalah bagi mereka para petani yang berjudul pertanian organik, pasalnya petani organik lebih memilih pupuk yang sudah tersedia di sekelilingnya tanpa harus bermahal-mahal dalam mendapatkanya. lha wong sisa sayur dan mayur aja bisa di jadiin pupuk kok. proses pembuatan pupuk organik juga gampang, yang paling mudah mungkin pupuk kompos dari jerami padi bukan jeruji besi lo.. atus.. lebih lengkapnya di cara pembuatan pupuk kompos jerami [...]
November 25, 2008 at 3:03 pm
Assalamualaikum mas insinyur, saya seneng dengan posting2 penjenengan, saya ngelink ke sini ya.. terimakasih
November 26, 2008 at 3:11 pm
Monggo, silahkan saja. Semoga bermanfaat.
December 7, 2008 at 5:06 pm
Mohon penjelasan tatacara penggunaan kompos jerami untuk media tanam jamur merang.
December 8, 2008 at 8:16 am
Biasanya jika untuk menanam jamur merang, jerami ditambah beberapa bahan, seperti kapur, bekatul, dan NPK. Kemudian ditumpuk dan didiamkan selama 10 hari. Setelah itu baru dimasukkan ke dalam kumbung dan digunakan sebagai media penanaman jamur merang. Semoga bermanfaat.
September 12, 2009 at 3:55 pm
mt mlm pak isroi,nama saya eben & saya tertarik utk mmbuat kompos jerami ini,saya mau tny aktivatornya bisa ga kalo ga dipakai (kalo bisa prosesnya jadi lebi lama ga)?tolong kirim ke benez18@yahoo.co.id ya jawabannya…makasi berat pak isroi
December 16, 2008 at 2:50 pm
gimana ceh ga bisa di-copy (halaman ni), help me mas,sy butuh trus trang,thanks b4
December 18, 2008 at 4:32 am
Silahkan saja, tetapi tetap mencamtumkan url asalnya. Semoga bermanfaat.
December 18, 2008 at 4:54 pm
[...] organik jika memungkinkan. Karena kedua pupuk ini sejauh ini lebih ramah lingkungan. Baca juga: Kompos Jerami | VCD Pengomposan Jerami | PROMI Artikel ini merupakan salah satu artikel paling sering diakses. [...]
December 31, 2008 at 7:35 am
saya pernah praktek pengomposan jerami dengan 3 metode yaitu dengan campuran kapur tohor dan kotoran ayam, kotoran ayam saja, dan menggunakan EM4. dan waktu pengomposannya tidak tepat ketika musim hujan sehingga pengomposan gagal. tempat yang tepat untuk pengomposan yang baik itu seperti apa y? terimakasih sebelumnya untuk jawabannya
January 3, 2009 at 10:34 am
kalau pengomposan dengan EM 4 sebaiknya tanya ke produsen EM4, karena saya tidak tahu dan rasanya tidak etis kalau saya yang membahasnya.
January 7, 2009 at 6:23 pm
[...] 2008. Kompos Jerami: Mudah, Murah, & Cepat. WordPress.com weblog. Available at http://isroi.wordpress.com/2008/02/25/kompos-jerami-mudah-murah-cepat/ (2 November 2008, 19.30 [...]
January 12, 2009 at 6:30 am
Mas, tahan berapa lama pupuk organik kalau disimpan? Untuk sawah 1000 m2 berapa dosisnya pupuk organik jerami dan promo kalau tanpa pupuk kimia?
January 12, 2009 at 9:22 am
Pupuk organik bisa disimpan sampai luamaa zekali. Justru kalau semakin lama semakin terdekomposisi dan menjadi lebih mudah diserap haranya oleh tanaman. Mudahnya begini saja. Semua jeram dari lahan itu dikembalikan lagi ke lahan dengan cara dibuat kompos telebih dahulu. Kira-kira bobot komposnya mungkin 0.5 – 1 ton dari jerami sebanyak 1.5 ton. Jadi dosis Prominya cuma 1,5 kg. Sedangkan untuk Promonya cuma perlu 2 liter. Semoga bermanfaat.
February 13, 2009 at 2:12 pm
mau tanya pak.
Bukankah dalam proses pengomposan adalah proses aerob. Kalo tidak sedangkan proses yg bapak jelaskan diatas (harus ditutup dengan plastik) berpeluang dalam kondisi an-aerob. Apakah ada perbedaan secara signifikan (dlm hal waktu proses) antara ditutup dengan plastik, tanpa di tutup dengan banyak di beri lubang angin.
Terima kasih jawabannya pak
Regards
ARIA
February 14, 2009 at 6:29 am
Penutupan dengan plastik bukan berarti tidak ada udara. Tetap ada udara, memang ada kemungkinan di sebagian tempat terjadi proses anaerob. Penutupan bertujuan untuk melindungi dari air hujan, menguapnya air, dan mempertahankan agar suhu tetap tinggi. Kebetulan Promi bekerja efektif pada suhu tinggi. Kalau suhunya turun akan menjadi lebih lama proses pengomposannya. Silahkan saja dicoba dengan metode yang ada buat. Mungkin bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Siapa tahu?
February 24, 2009 at 8:07 am
[...] Tikus Link terkait:Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati | Pengendalian HPT dengan Pestisda Nabati | Kompos Jerami | Contoh Pembuatan Pestisida Nabati | Pestisida Nabati untuk Wereng | Pengendalian Hama dan [...]
February 24, 2009 at 8:08 am
[...] Link terkait:Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati | Pengendalian HPT dengan Pestisda Nabati | Kompos Jerami | Contoh Pembuatan Pestisida Nabati | Pestisida Nabati untuk Wereng | Pengendalian Hama dan [...]
February 24, 2009 at 8:12 am
[...] Link terkait:Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati | Pengendalian HPT dengan Pestisda Nabati | Kompos Jerami | Contoh Pembuatan Pestisida Nabati | Pestisida Nabati untuk Wereng | Pengendalian Hama dan [...]
February 24, 2009 at 8:12 am
[...] Link terkait:Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati | Pengendalian HPT dengan Pestisda Nabati | Kompos Jerami | Contoh Pembuatan Pestisida Nabati | Pestisida Nabati untuk Wereng | Pengendalian Hama dan [...]
February 24, 2009 at 8:14 am
[...] Link terkait:Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati | Pengendalian HPT dengan Pestisda Nabati | Kompos Jerami | Contoh Pembuatan Pestisida Nabati | Pestisida Nabati untuk Wereng | Pengendalian Hama dan [...]
February 24, 2009 at 8:15 am
[...] Link terkait:Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati | Pengendalian HPT dengan Pestisda Nabati | Kompos Jerami | Contoh Pembuatan Pestisida Nabati | Pestisida Nabati untuk Wereng | Pengendalian Hama dan [...]
February 24, 2009 at 8:18 am
[...] Link terkait:Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati | Pengendalian HPT dengan Pestisda Nabati | Kompos Jerami | Contoh Pembuatan Pestisida Nabati | Pestisida Nabati untuk Wereng | Pengendalian Hama dan [...]
March 1, 2009 at 11:18 am
[...] juga: Kompos Jerami | VCD Pengomposan [...]
March 19, 2009 at 5:59 am
[...] http://isroi.wordpress.com/2008/02/25/kompos-jerami-mudah-murah-cepat/ [...]
April 7, 2009 at 3:04 am
[...] organik jika memungkinkan. Karena kedua pupuk ini sejauh ini lebih ramah lingkungan. Baca juga: Kompos Jerami | VCD Pengomposan Jerami | PROMI Artikel ini merupakan salah satu artikel paling sering diakses. [...]
July 6, 2009 at 2:12 am
masau tanya kira2 untuk mempercepat proses pembusukan jerami, ya istiLahnya stlh itu bisa dikembalikan ke tanah, paling cepat bisa berapa hari yakz???
trus pake apa yakz???
July 7, 2009 at 3:54 am
Berdasarkan pengalaman kami yang paling cepat 3 minggu pengomposan dengan menggunakan aktivator Promi. Jika tanpa aktivator bisa dua bulan baru bisa diberikan ke tanah. Jika mau menggunakan aktivator lain, sesuaikan dengan patunjuk penggunaannya. Semoga membantu.
July 26, 2009 at 11:28 am
Dmna mbli aktifator tsb didaerah indramayu jabar
July 28, 2009 at 4:33 am
Pak Isroi, apakah bisa promi/activatornya diganti dengan pupuk urea yang larutkan ke air.
dimana beli aktivator didaerah salatiga?
mohon penjelasan bagaimana kalau bikin pupuk kompos dengan media kotoran hewan (kambing/sapi)
nuhun,
August 8, 2009 at 6:11 am
Mas Roi,terus terang saya sebagai petani mengacungkan jempol atas semua yang mas Roi bahas dlm masalah pertanian.ada satu pertanyaan,apakah jerami yang lapuk sendiri(tidak dibakar)dg proses diladang yg berair jerami ditebarkan,setelah busuk ladang dikeringkan otomatis jerami menjadi lapuk,nah yang saya tanyakan model ini termasuk kompos bukan? haturnuhun
August 8, 2009 at 3:05 pm
Proses pengomposan atau pelapukan berlangsung secara alami, meskipun waktunya lebih lama. Jerami yang busuk di ladang adalah kompos juga, tetapi waktunya harus cukup. Artinya harus sudah cukup ‘matang’, sudah jadi kompos. Kalau hanya lapuk saja belum tentu sudah jadi kompos. Semoga membantu.
August 19, 2009 at 9:34 am
Ass.wr.wb.
Mas Isroi, terima kasih banyak atas semua tambahan pengetahuan yang disampaikan.Apakah tepung tulang sapi bisa dibuat kompos? Bagaimana plus minusnya? Kalau tidak bisa, bisa dimanfa’atkan untuk apa? Terima kasih. Wassalam
August 19, 2009 at 1:43 pm
Terima kasih kembali. Ada beberapa bahan yang tidak bisa/sulit sekali dikomposkan, yaitu: tulang, rambut, bulu, kuku, dan tanduk. Selain itu ada beberapa kayu yang sulit dikomposkan, seprti: kayu ulin, jati, dan sebangsanya. Semoga bermanfaat.
October 3, 2009 at 6:14 pm
Kang is…. aktivar jenis apa yang bs mempercepat pengomposan jerami …. tks
October 4, 2009 at 1:11 pm
Ya..PROMI dong….
)
October 5, 2009 at 7:10 am
bisa sy dpt kan di mana promi nya kang ….
October 25, 2009 at 3:23 am
Mas Isro salam kenal…
Saya saat ini sedang mengerjakan program pembelajaran mengenai pertanian yang berwawasan lingkungan, dan memerlukan artikel mengenai pembuatan kompos jerami, Alhamdulillah saya mendapatkannya dari blog Mas Isro, kalau boleh, saya izin untuk mengadopnya sebagai bahan pembelajaran untuk teman-teman petani, akan saya tulis kembali dalam salah satu bahan ajar yang akan saya buat. Terimakasih bila diizinkan. Salam
October 26, 2009 at 7:11 am
Silahkan saja. Semoga bermanfaat untuk teman-teman petani. Tetapi jangan lupa dicantumkan juga sumbernya. Terima kasih.
October 28, 2009 at 4:57 am
slm,sy patani-subang….gmn klo bekas limbah pada jerami merang?bs tdk di bikin kompos,apa msh ada kandungan nya,atau dah hilang blm,unsur2 yg terkandung di jerami bks limbah merang???
October 29, 2009 at 9:58 am
saya lihat jerami dengan kandungan KCL 89 kg per ton kompos jerami kering.sementara KCL anorganik dipasaran harga sangat mahal,dilemanya sangat dibutuhkan oleh tanaman.terima kasih pak isroi telah membuka pandangan saya tentang pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan dengan produk bapak,semoga saya nanti menjadi petani padi organik yang tak kan datang kekios saprotan,tak dipusingkan oleh kelangkaan pupuk kimia,tak dipusingkan harga pupuk setinggi langit tetapi tetap beli dan berhenti memusingkan tanah.
October 29, 2009 at 11:52 am
Sama-sama, Pak. Tetapi yang perlu diingat adalah K di dalam kompos beda dengan K dalam KCl. Reaksinya mungkin lebih terlihat dengan KCl dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang akan tetap lebih baik pake kompos.
October 31, 2009 at 9:49 am
Sore pak insinyur.saya dulu waktu memakai pupuk organik(matang)dari kotoran kambing(diolah dengan stardek) untuk tanaman padi varietas logawa sudah hal biasa dengan hasil 10 ton/ha GKP.tetapi setelah saya bekerja di bogor,walaupun tetap dikasih pupuk dasar 2 ton/ha plus pupuk kimia hasilnya dibawah jumlah itu.faktor apa yang membuat produksi tidak sama,satu. ke dua mohon penjelasan dari bapak apakah promi bisa membuat hancur/ tidak butir-butir dari kotoran kambing atau apakah bisa matang dalam waktu satu bulan atau kalo di sebarkan di sawah mengapung dan terbawa air.Klo tenggelam saya senang berarti kompos tidak kemana-mana, tidak menggembirakan sawah di bawahnya.
November 1, 2009 at 3:34 pm
Dapat panen 10 ton GKP itu luar biasa sekali. Dulu ada sayembara dari salah satu produsen pupuk organik untuk menghasilkan GKP setinggi itu.
Masalah produksi memang berbeda-beda, mungkin di tempat Bapak yang dulu tanahnya memang sangat subur dan kondisi iklimnya cocok untuk varietas logawa. Kalau tidak lihat sendiri dan tidak ada data saya juga tidak tahu apa sebabnya. Penjelasan yang bisa saya sampaikan, kemungkinan tanahnya kurang subur sehingga hasilnya kurang optimal atau varietas tersebut tidak cocok di wilayah tersebut.
Beberapa waktu yang lalu ada petani dari Kroya – Banyumas yang mengkomposkan kotoran kambing dengan promi. Hasilnya kotoran kambing jadi lunak dan bisa jadi kompos dalam waktu kurang lebih 3 – 4 minggu. Jadi tidak ringan seperti asalnya.
Sayangnya saya tidak bisa melihat langsung dan tidak mendapatkan foto-fotonya.
November 3, 2009 at 10:44 am
ich waw kerennnnnnnnnn
November 25, 2009 at 4:54 pm
mas, di daerah saya bnyak jerami yang tidak digunakan, dan selalu di bakar, kira-kira bisa nggak ya di ambil oleh yang membutuh kan.. kan bisa mengurangi polusi udara…
September 13, 2009 at 5:24 am
Seperti yang sudah saya jelaskan di bagian lain blog ini, pengomposan adalah proses alami. Bisa berlansung tanpa pakai aktivator dengan kondisi yang sesuai untuk pengomposan. Tetapi memang waktunya lebih lama. Coba cari di posting saya yang lain tentang kompos. Semoga membantu.
isroi